19 April Ke-21 Kali

April 19, 2020
Alhamdulillah kesempatan untuk membersamai April masih dihadirkan sebagai salah satu diantara banyak kesempatan tak terhingga di 2020 ini. Utamanya, untuk menghadirkan rasa syukur berkat bertambahnya usia pada hari ke-19 ini. Selain Masehi, 3 Muharram 1419 juga adalah hari bersejarahku dalam kalender Hijriah. Semoga sebagai Muslim, kita tidak melupakan hari bersejarah kita di Tahun kepunyaan kita yang tetap menjadi wadah untuk merangkum cucuran berkah dan rahmatNya, meski tidak akan pernah benar-benar cukup perhitungan kita dalam merangkumNya. Alhamdulillah 'alaa kulli Haalin. 

Sebenarnya, aku tidak pernah benar-benar menduga bahwa akan dijatuh-cintakan April seperti saat ini. Yang kutahu entah saat ulang tahun keberapa (ke-16 kalau tidak salah ingat), Ibu berkata bahwa aku sebenarnya menetas di bulan Mei, dan hanya 8 bulan di dalam perut. Jadi jika dihitung-hitung, artinya aku harusnya merayakan hari lahirku di bulan Mei, atau Juni saja?. Entahlah.. tapi, mari kita lupakan semua itu dan mencintai apa-apa yang sudah menjadi ciri khas serta identitas kita, sebab aku sudah terlanjur dikejutkan dengan keajaiban-keajaiban April. Dan, diantara semua keajaiban mencintai April, judul lagu Fiersa Besari - April, adalah yang paling mengejutkanku.

Sebelum aku mencintai hari ulang tahun yang tertera di segala dokumenku ini, aku benar-benar pernah dibuat tidak ingin merayakannya sama sekali. Dulu,  kurasai bahwa 19 April selalu diwarnai tangis. Jika sebagian orang merayakan ulang tahunnya dengan keceriaan, maka dalam satu hari itu.. ada-ada saja hal yang membuatku menangis. Hal ini mungkin sudah kau dapati pada cerita mereka yang bercerita bahwa sudah kuceritakan bahwa dulu, saat mereka bersikeras menyebarkan selebaran ucapan ulang tahun di asrama untukku (dengan menempelnya di dinding-dinding asrama), aku melarangnya keras, tetapi tetap dilakukannya. Ujung-ujungnya, entah dengan alasan tidak logis kenapa, aku dipanggil kakak kelas, dan (harus) menangis menganak-sungai pulang dari kamarnya lantaran di gab habis-habisan. Sendiri pula wkwk. Pernah juga, saat ujian Nasional. Hari kedua ujiannya tepat 19 April 20xx (Maklum, pekan awal dan pekan kedua April adalah musim-musim Ujian Nasional, apalagi jika bertemu hari senin sampai kamis wkwk). Aku lupa tahun berapa. Yang jelas, saat itu aku kira aku diprank habis-habisan lupa membawa Kartu Ujian. Aku kira temanku sengaja menyembunyikan kartu ujianku untuk membuat kejutan agar aku tidak masuk ujian. Saat benar-benar semua orang sudah masuk ujian.. tidak kudapati teman-temanku membual perihal itu. Aku akhirnya menangis di depan ruangan karena tidak diperbolehkan masuk. Lambat laun akhirnya aku diperbolehkan masuk karena mungkin kasihan pada tangisku yang sudah awut-awutan kala itu. Ternyata, aku benar-benar lupa membawa kartu ujianku. Sungguh kesialan di 19 April yang tidak akan kulupa. Barangkali, pada peristiwa-peristiwa tidak baik yang kualami di 19 April lalu, membuatku memarginalkan posisi 19 April lainnya yang akan datang. Padahal, ulang tahun tidak berarti tentang bahagia selalu. Justru seharusnya, ulang tahun adalah pengingat tentang sejauh apa diri sudah berprogres -berproses, berperan dan berdampak. Dan kesempatan untuk berprogres, tidak melulu tentang kesenangan yang selalu dibangga-banggakan. Barangkali, kesedihan adalah proses pendewasaan yang paling bijaksana.

Mungkin karena pemarginalan 19 April itu pula yang membuatku hanya ingin merayakan hari kebangsaanku dengan orang-orang terdekatku, dan siapapun yang ingat. Ahh, bagaimanapun kamu merayakan harimu, intinya semoga hari kebesaranmu senantiasa mengingatkanmu untuk terus berprogres tanpa disentuh siapapun, sebanyak-banyak yang kamu ingin. Sudah cukup, 20 kali 19 Aprilku hanya kubagi dengan yang terdekat dan siapapun yang ingat. Barangkali, sudah saatnya kali ini kuumbar-umbar juga(?), biar semakin banyak yang mendoakan ehehe. Apapun itu, angka 19 dan 4 sudah menjadi favoritku dan barangkali keberuntungan buatku, terlepas dari kepercayaan Chinese yang seringkali merasa bahwa empat adalah pertanda sial. Apapun itu, aku akan seberusaha mungkin mengisi absen pada urutan ke-4 ataupun 19, kalau lewat ke-40 pun tidak apa-apa sih hehe. Poinnya adalah, sihir tanggal lahirmu agar menjadi sesuatu yang kau elu-elukan selalu, biar kalau misalnya kau benci.. bisa jadi yang kau cinta sepertiku ehehe.

Sepertinya sudah terlalu panjang tulisanku ini dan membuat bosan kalian yang baca hehe. Yang sungguh ingin kusampaikan adalah.. rasa terima kasihku kepada siapapun kalian. Kawan sepermainanku saat kecil, kawan SD, kawan Ummul, kawan se-Organisasi, kawan se-Jurusan, intinya dalam lingkup apapun pertemanan kita -yang sudah memaknai bahwa perihal pertemanan bukan sekedar keharusan unggah foto di story saat ulang tahun atau keharusan bertemu dalam satu ruang yang sedangkan dalam do'a saja kita enggan menyebut segala harap untuk keterbaikan mereka yang disayang. Ahh, barangkali.. tidak unggah story di instagram saat dia ulang tahun hadir karena kamu sedang minder-mindernya melihat dia sudah punya relasi yang lebih hangat. Atau barangkali, tidak sempat bertemu dalam satu ruang adalah karena ada kewajiban yang didahulukannya diatas pertemuan yang (InsyaAllah) bisa dilakukannya di pertemuan berikutnya jika lebih luang. Intinya, pertemanan tidak boleh kita nilai sependek unggahan story Instagram dan kesempatan bertemu. Kita hanyalah sekumpulan hari. Barangkali, untuk menghadirkan ruang diperlukan sedikit uang kesepakatan untuk benar-benar luang. Saling mendukung dan mendo'akan dalam berteman adalah pilihan paling sederhana dalam membersahajakan mereka yang kita cinta. Jangan sampai, dengan berharap banyaknya story yang semakin titik-titik di instagram kita demi membuktikan makna pertemanan yang kita maksud..  akan hilang dan hambar peran do'a di dalamnya. Jangan sampai, jika standar pertemuan yang kita maksud adalah ukuran dalam pertemanan, maka apalah daya media sosial yang berfungsi mendekatkan yang jauh dan (apabila mengunggah di story perihal kebersamaan, bukankah itu) menjauhkan yang dekat? Membentuk sekat yang maknanya tidak lagi serupa perekat.

Maka teman-temanku,... kesayanganku.., terima kasih banyak atas story-storynya, tidak sampai titik-titik memang yang mengucapkanku. Tapi, paling tidak yang kurepost adalah yang rasanya tidak akan jadi sekedar bacaan bila kuunggah ulang, bukan sekadar bukti bahwa si A menyelamatiku. Sebab dalam story2 yang kurepost, terselip doa-doa hangat yang semoga jika dilihat oleh mereka yang membacanya, maka akan pula ikut mendoakan. Tidak sekadar ucapan 'selamat' belaka yang dia baca. Dan untuk pesan-pesan yang belum kubalas satu-satu.. Selepas kutulis ini akan kubalas juga satu-satu. Bila kau baca ini dan aku belum membalas pesanmu, barangkali pesanmu tertinggal jauhh sekali di bawah, maafkan aku. Tapi percayalah, seberusaha mungkin aku akan balas pesan kalian satu demi satu. Intinya Terima Kasih banyak, besok-besok.. semoga aku bisa lebih hangat dan mengunggah apapun yang pernah kita lewati saat hari ulang tahunmu juga tiba, paling tidak jika kudapati moodku sedang tidak ingin mengunggah apapun, maka barangkali sebait tulisan yang akan kukirimkan sebagai ungkapanku. Sebab jika akuu... barangkali tidak mengucapkanmu saat ulang tahun.. barangkali karena lupa. Tapi saat kudapati unggahanmu tentang ulangtahunmu, pasti minimal akan ku replay dengan ucapan selamat dan doa-doa sederhana yang kumampu. Pun barangkali jika dua tahun berturut-turut tidak kuucapkan kau ulangtahun, hanya ada dua kemungkinan; aku benar-benar tidak tahu ulangtahunmu, dan kau yang tidak mengucapkanku saat sudah kuucapkan kau ditahun sebelumnya, hingga terjadi siklus enggan-engganan diantara kita.

Tibalah di akhir kalimatku...
Sekali lagi, terima kasih banyak untuk teman-teman semua yang sudah menghangatkanku hari ini. Tidak pernah ada kue ulang tahun saat ulang tahunku (semenjak dewasa), dan semoga menjadi sesuatu yang bisa kubanggakan sampai di masa depan bahwa kebahagiaan ulang tahun bukan hanya tentang 'kue ulang tahun' dan 'publikasi-publikasi ucapan selamat'. Sebab sejatinya, ulang tahun hadir bukan untuk dirayakan, melainkan untuk menjejaki diri perihal sudah sejauh apa kita berprogres, Muhasabah diri bahasa agamanya. Karena itu, semoga selalu kita sertakan doa bukan sekadar selamat untuk siapapun mereka yang berulang tahun. Agar mereka semakin semangat berprogres dan menapaki jejak-jejak pencapaian dalam kehidupannya.

Sebagaimana gravitasi, do'a pun berlaku sama. Memantul untuk siapapun yang sudah melempar. Jadi, terima kasih sudah mendoakanku banyak sekaliiii teman-teman! Semoga aku bisa lebih hangat dalam menyambung tali yang sudah kita ulurkan sedari dulu.... Terakhir... memperkuat semua sekali lagi yang sudah tertutur sejak pertama, biar kututup dengan kalimat; terima kasih banyak! <3

Sumber Gambar; Google



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.