Menemukan "Kenapa" atas Segala-galanya.
| Edited in CANVA |
Sebenarnya, jauh sebelum tujuan dideklarasikan.. siapapun perlu sesuatu untuk mendasarinya. Adalah kemampuan menjawab "kenapa" yang harus mampu dijadikan pijakan untuk kembali merefleksi apa yang benar-benar menjadi keinginan.
"Kenapa?"
Ya, karena dengan pertanyaan "kenapa?", kita jadi tahu alasan kita sebegitu berjuang atas banyak hal yang menjadi tujuan kita.
Juga terhadap cita-cita, cinta, tindakan visi-misi bahkan keputusan. Sesimpel pertanyaan ini,
"Kenapa harus jadi presenter?"
"Ya karena aku suka."
"Jadi kenapa kalau kamu suka? Sebegitu harus?"
"Ya namanya juga bagian dari impian, ya harus diperjuangkan."
Ah, entahlah.. apa kemampuanku menjawap "kenapa" terhadap cita-citaku ini sebegitu kurangnya? Ayau memang hanya sebatas itu alasanku ingin jadi presenter?
"Tapiiiii, kenapa harus jadi presenter di antara banyaknya profesi lainnya?"
"Ya karena itu duniaku. Aku menyukai sesuatu yang tidak monoton. Bertemu banyak orang, menyelami banyak sudut pandang, karakter, manusia, mengunjungi banyak tempat dan semua-muanya."
"Lantas kenapa jika semua tentangnya begitu kau sukai?"
"Karena aku ingin menyentuh banyak hati lewat profesiku itu (semoga). Dan dalam sudut pandangku, being presenter akan terus membuatku belajar."
Mm, is that enough to answer my grand why to be presenter?
I'm not 100% sure. Tapi sejauh prosesku berjalan, that's the reason why I want it so bad. Atau mungkin kalau aku sudah melakoninya suatu hari nanti, maka akan kutemukan alasan-alasan lainnya untuk semakin cinta terhadapnya. After those longest ways of education, experiences, and etc.. being presenter is my last stop maybe, hehe.
Menjawab pertanyaan kenapa memang tidak sebegitu mudahnya. Perlu ada banyak analisa dan perspektif, bahkan sesekali harus diprtimbangkan secara matang. Sebab, dalam beberapa sudut pandang pun akan menemui banyak penolakan atasnya. Sebagaimana Mamaku, yang agaknya sedikit menolak keinginanku menjadi presenter itu, mungkin sudah lunak sedikit.. tetapi sebagiannya masih menolak, kurasai.
Ah satu lagi, dan paling sering kudapati orang lain menanyaiku....
Kalau kubilang being news anchoris one of my dream, yass! that's true. It is part of my dreams.
Tapi, impian terbesarku adalah ingin sekolah terus.
"Kenapa?"
"Karena aku ingin kuliah lagi ."
"Kenapa?"
"Karena aku ingin menjumpai segala sisi dunia, dan sekolah terus adalah cara paling menawannya."
"Kenapa?"
"Karena aku ingin mendidik anak-anakku sebaik-baiknya. Dan untuk mendidiknya, aku perlu banyak bekal menjumpai banyak hal."
"Kenapa?"
Ah, jadi semakin sulit saja kan? Wkwk
"Just.. karena dengan sekolah, selain memperbaiki kehidupan pribadi, aku ingin anak-anakku punya sesuatu yang akan selalu bisa dia banggakan dari mamanya. And I will fight for that. Just as simple as the proud children of their Mamma <3."
Terdengar mengesalkan, barangkali. Tapi percayalah.. menjawab "kenapa?" atas segala-galanya akan kembali meyakinkanmu untuk tetap melangkah. Untuk menguatkan kembali atas segala tujuan yang hendak dicapai.
Jadi...
Mari menanyakan "kenapa" atas semua cita-cita, cinta, tindakan, visi-misi, bahkan keputusan.
13 Sya'ban 1443 H.

Tidak ada komentar: