Teruntuk Seseorang di Hari Nanti #3
Sudah lima tahun berlalu, sejak pertama kalinya aku menulis tentang ini. Ternyata aku sudah begitu meromantisisasi tentangmu sejak usiaku dua puluh lebih sedikit, hehe.. ((baca di sini)). Namun nyatanya, setelah lima tahun berlalu, aku justru belum menemukanmu. Ironiskah?
Tapi, membacanya kembali, membuatku sedikit tergelitik dan bertanya-tanya... apakah aku adalah manusia yang se-kheki itu sejak dahulu? Apakah tulisan-tulisanku tentangmu sebegitu manisnya di masa dulu hingga membuat segala yang di kepala bisa sebegitu larutnya? Atau memang, menulis tentangmu selalu semenyenangkan itu, sebab kau kudefinisikan sebagai imaji di kepalaku dan kubuat kau sebagaimana kehendakku atas Seseorang di Hari Nanti....(?)
Hingga saat aku menulis ini.., aku jadi bertanya-tanya.. kemana semua kebiasaan romantis itu di usiaku yang sekarang? Kalau biasanya aku berlindung di balik payung kata-kata yang bercerita tentangmu, rasanya sekarang tidak lagi. Aku bahkan mengutuk diri sendiri saat akan meromantisisasi hal-hal romansa usia 25+ sebagai hal-hal paling menjijikkan yang pernah ada. Seolah meromantisisasi kehidupan bersepasang adalah dosa besar yang sedang dilakukan. Padahal bukankah wajar adanya saat mendamba seseorang sesuai kehendak?
Maka biar kuperjelas lagi di baris ini tentang segala tentangmu dalam kehendakku, bahwa aku ingin KAU. Ya, KAU. Seseorang, yang padanya bisa kusandarkan segala. Yang padanya kuluapkan segala keluh maupun kesah. Yang hanya padanya aku meluapkan tangis, nestapa juga amarah. Bisakah kutemukan itu pada KAU?, sebab aku pemilih dalam meluap rasa. Sebab aku enggan terlihat lemah di depan massa.
Bahkan hingga detik ini, saat meratap perihal sendiriku, aku pun tak berekspek atas apa-apa atas hal-hal yang harus ada padamu, barangkali selain karakter dan isi kepala ((juga kepiawaian menulis dan ilmu agama)). Sebab itu yang akan kubersamai se-sisa hidup. Maka bila boleh kuperjelas,.. aku ingin kau segera hadir, mengarahkanku pada kebersaamaan hidup yang bisa mengantar hingga surga. Sebab aku tak ingin hanya sehidup, tapi juga se-surga. Aku INGIN KAU, segera ada.
Satu lagi, aku ingin kau yang penuh juang. Atas segala inginmu, dan juga atasku. Karena bukankah perempuan memang selalu ingin diperjuangkan? Maka selain mimpi-mimpi, hidupmu dan segala ke-kamu-anmu. Aku juga ingin kau perjuangkan. Penuh Usaha. Full effort generasiku menamai. Sebab saat kau berusaha mendapati aku, maka barangkali bisa kubanggakan suatu hari nanti, tentang kau yang memperjuangkanku ugal-ugalan. Biar ala drama korea, atau sesimpel FTV ala negara kita, hehe. Lebhay dehhh....
Tapi sungguh, aku ingin kau yang penuh juang. Karena masih di dalam hatiku, aku ingin punya kehidupan denganmu, di belantara benua yang entah Allah takdirkan di mana, di suatu hari nanti. Sebab jauuuuuh di lubuk hati terdalamku, keinginan merjaut kasih denganmu di Negara Orang sebagaimana yang kutulis di sini masih menjadi sesuatu yang ingin kurasakan sebagai fase hidup. Maka, aku ingin kau yang penuh juang. Sebab, ketika menemukanmu sebagai seseorang yang penuh juang.. bukankah kita akan menjadi sepasang yang saling menguatkan? Bukan hanya untuk mendukung di segala bentuk perjuangan.. tapi sebagai satu, dalam cinta menjemput cita. Maka kau harus penuh juang. Sebab di sini, aku memperjuangkan hidup dan mimpiku di atas segala-galanya.
Dan kumohon kasih..... jadi-lah kau, laki-laki penuh juang itu. Aku benci ke-menye-menye-an. Barangkali boleh sesekali, tapii.. ah entahlah. Aku ingin kau hidup dengan penuh perjuangan, meski dibabat realita menyakitkan. Dan aku ingin kita yang mengusahakan. Untuk hidup, untuk cinta, dan untuk cita.
Kasih, aku ingin KAU. Seseorang yang menggenggam jemariku, lebih dari selamanya. Dengan penuh segala yang sudah kutuang lewat tulisan-tulisan, agar kita dapat memahami. Maka kasih selain tulisan dan juga do'a, semoga kau yang kudambakan.. senantiasa turut merengkuhku dalam segala bentuk perjuangan, dengan penuh usaha.
Ditulis, saat usiaku dua-enam lewat sekian.
| Bonus, fotoku memperjuangkan segala ke-aku-anku~ |

Tidak ada komentar: