Teruntuk Seseorang di Hari Nanti #1

Januari 05, 2020
Kemarin seseorang bertanya padaku, perihal pasangan masa depan seperti apa mauku. Ah, ada-ada saja orang-orang, terlalu ingin menahu tentang kamu-ku dimasa depan dalam inginku. Kemudian kucoba sambungkan beberapa hari yang lalu, temanku juga bertanya apakah aku mau jika benar-benar diajak serius, sebab katanya.. aku sudah bisa, lalu kutanya.. aku sudah bisa apa? Bangun subuhku saja paling cepat jam 5 HAHA. Lebih-lebih temanku satu itu, semakin menjadi saja hal-hal tidak masuk akalnya.

Jika bertanya tentang kesiapan, tidak ada orang yang benar-benar siap dalam hal apapun. Kita hanya dipaksa untuk menjadi siap dan menjalani proses itu sebagaimana kesiapan kita yang coba kita persiapkan sebelumnya, meski sebenarnya tidak akan cukup persiapan kita untuk menggapai sebuah kesiapan itu. Mengerti? Dan aku masih belum sangat siap untuk menjadi tua. Sayangnya, waktu sepertinya tidak bersepakat tentang hal itu, semakin menarikku dalam lubang-lubang bertambahnya usia yang semakin membuatku tidak percaya diri saja huhu.

Eh, Apa Kabar Kamu? Semoga segala kerikil yang menjatuhkanmu, juga segala luka yang mematahkanmu, kiranya agar bisa kau terima selapang mungkin. Sebab, sumber kekuatan yang paling purna adalah berasal dari kesengsaraan. Jadi, tetap kuat ya? Sebagaimana kamu, akupun berusaha kuat, hari demi hari. Agar kemudian, kekuatan itu bisa kutularkan nantinya.. supaya tidak sebatas pada diriku sendiri, tidak menguatkan diri sendiri. Tapi ingat, semoga dukamu tidak selalu kau lampiaskan pada rokok, sesekali aku sepakat, asal tidak sering. AKU BENCI SEKALI PADA (PE)ROKOK!!!, enak saja mengambil hak semua orang untuk menghirup udara bersih dengan bebas.

Ngomong-ngomong, sedang apa kamu? Jawab apa adanya saja. Saat ini, mungkin kamu sedang berusaha menamatkan bacaan dalam lembar-lembar buku yang sedang dalam genggamanmu yang tidak kumengerti maknanya. Atau, kamu sedang mencoba membuat puisi untuk dambaanmu dalam lembar kertas yang jika kau rasai tak sesuai, kau robek kertas itu lalu kau remas hingga berujung pada tempat sampah. Ah basi!. Atau, kau sedang berusaha membuat gadis lain tersenyum dalam balik layar gawaimu? Seberusaha mungkin merayunya agar kau rasai sabit meski tak bertatap langsung? Ahh, ciri khas milenial sekali. Atau Hmm.., jangan sampai saat ini kau sedang berusaha bangkit dari patah hatimu kemarin yang membuatmu gagal move on terus HAHA, kasihan yaah kamu!. Tapi, apapun keadaanmu, semoga segala semoga mendekapmu dalam keniscayaan. Biar banyak pengalaman yang kamu punya, lalu nanti kita tukar. Adil kan? Hehe, sebab aku tidak ingin membatasimu dalam hal apapun. Belajarlah, bekerja, dan jangan lupa berjalan. Menjelajahi semesta, memperbanyak pengalaman, agar nantinya kudengar cerita-cerita hebatmu di masa muda itu. Bukankah begitu?

Aduhh klise skali tulisanku ini, padahal
sebenarnya aku hanya ingin memulai percakapan basa-basi denganmu. Eh bukan!, aku ingin mendebatmu habis-habisan, biar kulihat seberapa sabar kau dalam menghadapi keras kepalaku nantinya. Haha.

Padahal, yang sungguh ingin kusampaikan padamu adalah bahwa bebaskan aku sebebas-bebasnya, Kasih! Izinkan aku menyelesaikan urusanku dahulu lalu kau datang ke rumahku dan menawarkanku sebuah kesiapan. Biarkan aku menyelesaikan mimpi-mimpiku lalu kau hadir, mengajakku menjejaki asa yang baru. Sebab saat kini kau di timur menjelajahi sejarah, aku ingin menuju barat melihat modernitas. Hal yang sudah kudampa sedari dudukku di bangku Aliyah.

Maka kasih, kumohon. Dalam penantianku ini, ketahuilah aku seberusaha mungkin menjadi sebaik-baik perempuan. Biarkan aku bertanggung jawab atas pilihanku dahulu, lalu bertanggung jawab atas kapal yang kau tawarkan untuk kau nahkodai bersamaku. *hiyya

Tertanda, kutulis saat usiaku masih 20 tahun HAHA.


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.