Mengenyahkan Paling (1)

Oktober 25, 2019
Seringnya, kata 'paling' senantiasa bersemayam di dalam diri kita. Menyeolah-olahkan bahwa segala apa yang ada di diri kita adalah ke-paling-an paling 'paling' yang paling 'paling'. Pusing? Tapi begitulah kita. Kita adalah manusia paling benar, cantik, tampan, baik, rapi, jujur, menderita, berjuang, berkorban, bijak, layak, pantas, cocok, tepat, dan segala ke-paling-an lain yang coba kita nobatkan untuk diri kita.

Tapi, bukankah hal yang paling 'paling' hanyalah milik Tuhan semata yang kita sebut dengan 'Maha'? Mahakuasa, paling berkuasa. Mahaindah, paling indah. Lantas, apa yang bisa kita sematkan dalam diri untuk senantiasa merasa paling?

Dalam banyak kasus, merasa paling adalah yang paling membinasakan. Dalam berkehidupan, merasa paling menderita hanya akan membuat kita semakin jauh dari rasa syukur. Mengutuk ini itu, menebar iri kepada siapa saja lantaran perasaan 'paling menderita' itu. Pun merasa paling enak hidupnya hanya akan membuat kita tidak pernah puas atas apapun. Melihat dia punya ini, ingin juga. Lihat mereka beli itu, beli juga. Merasa bahwa jika bisa memiliki semuanya bisa membuat bahagia, padahal kunci bahagia ya hanya satu, syukur.

Dalam bermasyarakat misalnya. Saat kita merasa 'paling pintar', berlagak mengatur ini itu, lantas marah jika tidak sesuai. Nyatanya, tidak semua hal di dunia ini memerlukan kepintaran. Konsistensi atas gagasan ataupun ide jaaaauuuh lebih diperlukan dibanding kepintaran. Apalah daya sebuah ide tanpa pergerakan. Begitu kan?

Juga, saat kita merasa 'paling berkorban'. Apa yang terjadi? Rasa marah menjadi bertengger, merasa sudah capek, sudah cukup berkorban lantaran rasa 'paling' itu. Membuat keluhan dimana-mana. Berhenti karena sudah menjadi paling berkorban katanya. Akhirnya, perjuangan berhenti sampai disitu. Menyerah. Padahal, kita hanya perlu merangkul untuk kembali berkorban bersama-sama. Bukan justru merasa paling.

Ah, banyak sekali paling-paling berselindung di benak yang membuat kita cepat sekali iri, cepat sekali puas, cepat sekali marah, cepat sekali menyerah, lalu butuh diakui ke-paling-an kita itu.

Barangkali, dengan diakui menjadi paling, bisa membuat kita merasa dihargai? Begitu ingin kita kan?

Padahal, semestinya yang kita pegang teguh dalam menjadi paling adalah; dengan merasa 'paling' tidak ada apa-apanya, paling tidak tahu apa-apa, paling jahat. Agar perubahan-perubahan itu kita upayakan selalu.

Atau, tidak perlu memiliki rasa ke-paling-an itu? Biar pada tahap sedang-sedang saja. Agar, ke-paling-an tetap menjadi milik Tuhan yang tidak bisa disandingi.

Untuk itu, mari mengenyahkan sifat 'paling' yang masih saja menetap. Biasa-biasa saja, setiap orang diatur menurut porsinya masing-masing. Kita saja yang melabelkan diri pada kepalingan itu. Kan?

Cukup aku saja yang jadi paling kamu idamkan hewhe:)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.