Teruntuk Seseorang di Hari Nanti #2
Aku tidak tahu pada titik mana pesonaku akan menjatuhkanmu. Jika barangkali parasku lah yang paling pertama menjatuhkanmu, maka semoga bila semakin kau gali pesonaku, semakin kau dapati kejutan pesona lain yang kian meluluh-lantakkan duniamu. Sebab, apalah arti paras, Kasih, bila semakin memacunya waktu, maka akan kau dapati parasku yang kian hari akan menua, perlahan-lahan lalu keriput.
Aku tidak tahu, siapakah yang paling beruntung diantara kita. Aku-kah yang beruntung memilikimu ataukah sebaliknya, kau kah yang beruntung memiliku, di suatu hari nanti pada akhirnya. Sebab, pada keberuntungan yang kita anggap sebagai kesyukuran yang Tuhan hadiahkan, masih banyak ketakutan-ketakutan lain yang mudah saja membuat rapuh perasaan barang sedetik pun, menggugurkan percaya diri yang kita bangun atas nama keberuntungan.
Aku tidak tahu, siapakah yang paling mencinta diantara kita, di suatu hari nanti pada akhirnya. Aku-kah yang akan terseok-seok menangisi segala perdebatan saat tidak kudapati diriku mampu melebur amarahmu, atau kau-kah yang akan mendiamkanku lantaran tidak kau dapati satupun cara untuk meredam keras kepalaku. Sebab Kasih, apalah arti mencinta saat semuanya habis dilahap amarah dan keras kepala?
Aku tidak tahu, siapa yang lebih dulu meninggalkan diantara kita, di suatu hari nanti pada akhirnya. Tangisku kah yang menganak sungai pada nantinya bila tak lagi kudapati adamu, atau diammu kah yang akan kau perangkan di belantara rimba tak ada hadirku. Sebab dalam kebersamaan kita yang (semoga) panjang nanti, aku tak tahu bagaimana kita berpisah, tapi semoga hanya dimensi yang memisahkan kita. Dan bila boleh meminta, aku tak ingin berlama-lama berada di dimensi yang berbeda denganmu, sebab (mungkin) aku tidak akan sanggup berpisah lebih lama lagi.
Aneh sekali. Kita bahkan belum berjumpa. Tapi sudah kususun sedemikian rapi, perihal pertemuan hingga perpisahan kita. Satu hal Kasih, ketahuilah bahwa jauh sebelum kita dibersamakan.. aku tak menyebut nama siapapun untuk dibersamakan denganku, agar kau tidak kecewa nantinya.. (meski dulu pernah). Aku tidak ingin kecewa mendamba seseorang yang melarungkan nama perempuan lain di dalam doanya. Maka biar tugasku sebagai perempuan untuk menunggu, menunggu, dan senantiasa menunggu hadirmu, tanpa mengharapkan yang lain untuk membersamaiku.. meski mungkin dalam beberapa masa, kudapati debarku tak seperti biasanya atas seseorang. Tapi yakinlah kasih, aku sedang menahan hatiku sekuat-kuatnya. Mempersiapkan diriku sebaik-sebaiknya untuk dipertemukan denganmu. Maka Kasih, tugasmu adalah.. rengkuh aku dan taruh aku dalam urutan kesekian bait-bait do'amu, biarlah Bapak-Ibumu dan segala kebajikan hidupmu yang paling atas. Sebab.. meminjam kata mutiara favoritku semasa Tsanawiyah sebagai penutup, Laa Yaruddul Qadaro Illa Addu'aa. Tidak ada apapun yang mampu mengubah takdir, kecuali do'a. (serta usaha pastinya).
![]() |


Tidak ada komentar: