Jilbab dan Level Kesholihan Perempuan

April 10, 2024

Perkara jilbab sudah jelas dibahas dalam banyak kitab, buku, literatur, jurnal, website, bahkan sejak berabad-abad lalu. Sebab isu tentang jilbab memang tidak pernah habis dimakan zaman, timbul tenggelam di antara isu lain yang juga kian memanas. Nampaknya, fenomena penyematan ukhti-ukhti saat ini adalah tentang selembar kain yang menutupi kepala dengan panjang, padahal jika ditilik secara Bahasa maka seharusnya ukhti bermakna 'saudara perempuan' dalam kondisi apapun jenis jilbabnya -meski tidak berhijab juga. Bahkan, semakin panjang dan besar selembar kain yang bersemayam di kepala, maka akan semakin  sholehah pribadinya, InsyaAllah. 


Sebagai seorang ukhti -saudara perempuan, aku dengan bangga mengatakan kalau aku adalah muslimah dan merupakan anak pesantren. Suatu kesyukuran bahwa sudah jelas kalau kepalaku berhijab, dan insyaAllah hatiku juga. Tidak besar-besar amat sih jilbabku di kepala, sesekali bahkan masih menggantung, diikat, juga pendek. Bahkan masih kadang-kadang ditegur lantaran terlihat beberapa helai rambut, padahal sudah kusiasati sebisanya dengan dalaman hijab -ciput, yang sesekali kupakai jua. Penampilanku sebenarnya biasa saja, seberusahanya tertutupi dengan longgar-longgar. Meski kadang ketat sih jikalau setan sedang dalam kesuksesan usahanya ((ah, malah menyalahan setan, wkwk). Soal bawahan, jangan salah. Aku masih sering pakai celana, juga yang ketat-ketat, lagi-lagi kalau setan unggul.


Aku sedang dalam tahap belajar, dan memupuk-mupuk niat untuk menggenapkan jilbab yang menjuntai itu, bahkan jika diberi kesempatan berumur panjang, maka aku ingin melakukannya setelah menikah, hehe, Aamiin. Lagi, suatu kesyukuran bahwa aku menggolongkan diriku sebagai peremuan Sholihah. Salahkah? Atau memang ada level tertentu untuk meggolongkan diri sebagai perempuan sholihah? Atau bahkan, kesholihan perempuan diukur dari tingkatan jilbabnya?


Allah, semoga Engkau mudahkan segala prosesku dalam menuju-Mu. Dan juga, meski jilbabku tergolong yang masih gawl, semoga akan ada kesempatan dan Kau beri keteguhan untukku agar melebarkannya suatu hari nanti. Mohon doanya, yaa, teman-temann!


Jadi... benarkah bahwa untuk disebut sholihah diharuskan dengan penutupan jilbab secara menjuntai?


Karenaaa... I want to be called °❀⋆.ೃ࿔*:・ your sholehah one °❀⋆.ೃ࿔*:・ due to my -not sholihah- appareance.


Masa-masa aku merasa the Most Sholihah One of mine, hehe




Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.