Mengudara di Ruang Kenangan
Ruang kenangan. Terdengar klise, namun pada faktanya membuat rindu jadi tertumpuk. Bukankah mengesalkan merindukan sesuatu yang tidak bisa kembali? Lantas kau sebut apa hal yang seperti itu?.
Teruntuk,
Orang - orang hebat yang saya temui kurang dari setengah semester kemarin (baca; Ketua OSIS terpilih).
Orang - orang hebat yang saya temui kurang dari setengah semester kemarin (baca; Ketua OSIS terpilih).
Saya ingin mengajak kalian mengudara di ruang kenangan terlebih dahulu. Mengingat betapa menyenangkan memiliki teman sehebat dan se-luar biasa kalian. Bukankah menyenangkan memiliki teman dari seluruh penjuru tanah air? Bilang saja kau ada di Indonesia belahan mana, lantas temanmu akan menjadi tuan rumah yang baik untukmu. Begitu bukan?.
Bukan, bukan itu yang ingin saya bahas. Saya ingin mengurai bagaimana saya menilai kita. Agaknya, kita terlalu canggung satu sama lain; terlalu menjaga nama sebagai ketua osis terbaik; terlalu kaku; sehingga tidak nampak seperti apa diri kita sebenarnya. Pun, pembahasan hanya berkisar tentang program kerja, perealisasian, dan hal hal yang saya kurang bisa mengerti sesempurna yang saya bisa -sebab, saya berbeda dengan kalian, akses saya terbatas dalam penggunaan internet. Bagaimana jika kita memulai pembicaraan yang lebih hangat? Ataukah saya yang kurang tau dikarenakan saya yang jarang nongol di ruang obrolan? Ah.. seandainya saya bisa seluwes kalian.
Saya pikir, obrolan kita bisa lebih hangat dibanding saat ini, bertanya kabar, menyemangati, dan tentunya merespon satu sama lain. Sayangnya, itu jauh dari ekspektasi. Pun, ketika saya ikut nimbrung, yang ada justru semua diam, seakan - akan saya orang asing yang harus dimusnahkan. Hening. Tidak ada yang menjawab. Lantas, apalagi yang bisa saya perbuat? Saya akui, saya bak 'pengunyah permen karet' membuang sepah setelah manis. Tapi saya tidak pernah bermaksud demikian. Sekali lagi, saya terbatas dalam akses internet.
Bukankah lima hari itu terlalu berharga untuk dibiarkan tinggal menjadi kenangan?
Saya masih ingat hari pertama kita, gala diner. Saat kaum adam tak berhenti meneriakkan "Ladies First", walau fakta tak sematang yang terucap. Saya juga masih ingat betapa berdebar - debarnya saya bertemu kalian, orang - orang yang jauh lebih hebat dari saya. Saya bahkan masih ingat proses perkenalan pda saat gala diner. Bagaimana bisa saya melupakan dan meniggalkan hal yang begitu berharga untuk kita?. Bahkan dalam keadaan lelah, kita masih menyisihkan waktu untuk bertemu dengan teman kelompok masing - masing. Mengesankan bukan?
Lantas, bagaimana dengan kelelahan - kelelahan yang tersemai dalam lima hari luar biasa kemarin? Saat kaki kaki kita menapak di bangunan luar biasa negara tetangga ; Putrajaya, Malaysia. Bangunan yang tidak semua warganegaranya pun bisa datangi.
Ah iya, sungguh. Kita sibuk. Kau, aku, dia. Kita semua sibuk. Setelah pertemuan luar biasa itu, kita kembali ke aktivitas masing - masing, menyeakan - akankan bahwa ke-kita-an kita hanyalah cerita usai yang dibahas ketika memang perlu.
Sayangnya, ekspektasi saya jauh dari itu, yang berbuah kemalangan hati, sebab realita memijakkan kaki di keadaan lain.
Saya bahkan masih ingat bagaimana malam terakhir kita, diselingi kepura - puraan yang mendramatisir suasana, tapi berhasil memecahkan tangis - tangis kita. Melupakan sejenak tentang ego akan 'penjagaan image'.
Apa yang terjadi setelah itu? Waktu terasa kurang, mengharuskan kita pulang ke daerah asal masing - masing. Membuat sebagian dari diri kita mengenggelamkan rindu yang sebenarnya hadir terhadap kita.
Saya cukupkan saja sedikit ajakan saya mengenai "mengudara di ruang kenangan." Dan, Saya harap, bukan hanya saya yang mendamba percakapan hangat berkepanjangan; dimana notifikasi ruang obrolan kita jauh dari kata sepi.
Sekali lagi, maafkan saya kurang bisa berpartisipasi. Maafkan saya yang terlihat seperti "Pengunyah Permen karet." Bukan, itu sungguh bukan maksud saya.


Tidak ada komentar: