Sebelum Lebih Jauh Melangkah.
Sebelum cerita semakin jauh, ada baiknya jika saya menceritakan tentang saya terlebih dahulu, bukan bermaksud agar dikenal, ingin ditahu atau semacamnya, hanya saja, agar kita saling kenal mengenal walaupun tak benar - benar dekat. Walau tak berjabat tangan atau tak bertatap wajah, setidaknya agar tidak terjadi kesalah kiraan mengenai "indah". Karena di dunia ini, sudah banyak sekali orang yang bernama indah.
Meskipun demikian, saya hanya berusaha memperkenalkan diri saya, indah yang ini, bukan indah yang lain, walaupun ketika kau menuliskan kata indah pada mesin telusur (sebut saja google) maka yang kau temukan itu justru bukan saya, melainkan sesuatu dengan tanda kutip yang tidak di buat - buat "indah sesungguhnya". Kau coba pun mengetik 'indah amaliah' masih bukan indah yang saya yang berada pada urutan pertama. Sudah kubilang sebelumnya, banyak sekali orang yang bernama indah.
Tapi Indah Amaliah yang itu hanya ada satu di muka bumi ini, Indah yang suka makan ikan asin, sambel terasi, ditambah sayur asam. Ohiya, saya baru makan itu semua tadi sore, Itu karena saya baru pulang dari pesantren, makanya dibuatkan khusus untuk saya, bukannya mau sombong, tapi ketika baru pulang dari pesantren, kemauan saya pasti dituruti. Hehe.
Oke, saat ini saya sedang sibuk - sibuknya dalam proses memilih kehidupan saya. Namun, saya rasa saya perlu menulis ini agar merefreshkan kembali otak saya yang sesak akibat soal - soal yang tak pernah berhenti saya kerjakan akhir - akhir ini. Huufftt. Usia saya sudah hampir delapan belas. Tapi belum. Tidak usah dipikirkan mengenai usia saya, pun kalau ada yang ingin, terima kasih sudah peduli.
Saya dilahirkan dari pasangan Mustaufik Amin, dan Nurmi Amin. Anak terakhir. Bapak saya tinggal bersama kakak saya di Padang, dan bekerja sebagai Dosen di Institut Pemerintahan Dalam Negri. Dari kecil, saya terbiasa hidup bersama Ibu saya, itu sebabnya saya lebih dekat dengan Ibu dibanding Bapak saya. Bapak paling sering menelfon saya untuk menyemangati, terlebih jika mendengar kabar kalau saya sedang jatuh, you knowlah what I mean "jatuh".
Masa kecil saya di habiskan di Makassar, di Kompleks Cacad Veteran D/39 Sudiang. Terkadang, nama kompleks tempat saya tinggal memberi kesan buruk bagi teman - teman yang mendengar, namun itu bukan halangan untuk maju.right?. Saya memiliki teman dekat, namanya Yuli, yang sampai saat ini masih keep in touch. Kami berteman sejak tahun 2002, sejak permen masih menjadi hal yang paling kami rebutkan. Kami tidak pernah satu sekolah, namun kami tetap dekat.
Kemudian, saya melanjutkan Taman Kanak - Kanak (TK) di TK aini, sepertinya TK itu dibuat khusus untuk saya. Ketika saya akan masuk TK, TK itu dibuka. Namun, ketika saya sudah lulus, TK itu ditutup. Luar biasa bukan?. Namun, saya betul - betul membuktikan bahwa setelah TK itu tutup, saya mampu menjadi alumni yang luar biasa. Tulisan tangan saya dipuji banyak Ibu - Ibu di dekat rumah saya, terlebih Bahasa Inggris saya yang sudah fasih dalam menyebut alfhabet, angka, dan peralatan menulis. Itu membuktikan bahwa TK saya hebat walau dibuka khusus untuk saya. Muridnya juga banyak, sekitar 40 orang dalam satu kelas. Sayangnya Guru - Guru di TK saya sepertinya berat melepas saya sehingga sengaja menutup TK itu.
Saya ingin menceritakan sedikit tentang masa kecil saya di TK, ketika itu saya kagum terhadap teman TK saya, namanya kalau tidak salah ingat 'Harianto'. Dia saingan berat saya di TK. Tapi saya kagum. Menurut saya dia cerdas dan tampan. Dia juga sering membagi bekalnya untuk saya. Tahu hal konyol apa yang saya lakukan? Saya dengan percaya dirinya menggunting kertas menjadi bagian - bagian kecil, menulis nama saya dan Harianto, lalu membagikannya kepada teman - teman saya dan mengatakan bahwa kami akan menikah. Saya berani bertaruh, saya belum tahu apa itu menikah pada saat itu. Semua Ibu - Ibu tentunya menganggap saya adalah anak yang lumayan keren, sudah mengerti apa itu menikah (dalam keadaan mereka tertawa terbahak - bahak menerima kertas dari anaknya yang mereka dapat dari saya) walau masih kecil. Ah sungguh menggelikan, sampai sekarang, pipi saya akan memerah ketika orang - orang mengingatkan saya mengenai hal itu.
Usia saya enam tahun saat masuk ke Sekolah Dasar (SD). Sayangnya, saya tidak satu sekolah lagi sama Harianto. Tapi itu bukan masalah, saya bertemu teman yang jauh lebih banyak. Walau sudah tidak ada mainan. Saya sekolah di SD INPRES PAI II, dibelakang kuburan kata orang. Tapi sekali lagi, itu bukan masalah. Saya senang bersekolah disana. Saat SD, teman - teman saya menangis ketika orang tuanya sudah pulang setelah mengantar, saya justru tidak mau di antar oleh Ibu saya. Sepertinya, saya sudah belajar mandiri otodidak dengan tidak tinggalnya saya bersama Bapak saya. Saya adalah anak SD pertama yang ikut naik pete - pete (angkot) bersama orang tua teman saya. Pernah suatu ketika, saat itu saya masih kelas dua. Saya pulang jalan kaki dari SD sambil menangis, bukan karena kelelahan. Tapi terlebih karena kebodohan saya. Jadi, dari kecil saya memang diberi jatah uang setiap harinya. Setiap hari waktu itu jatah uang saya 3000 rupiah per hari. Uang jajan saya di rumah 1000. Di sekolah 1500, uang transportasi 500 (angkot saat itu masih 200 atau 300 rupiah). Sayangnya, saya menghabiskan uang itu, berharap belas kasihan ibu untuk memberi tambahan uang, dan Ibu tidak menambah uang saya, dan jadilah saya tidak punya uang transportasi. Teman saya mengajak "Indah sini meko, samaki pulang. Nanti Mamaku yang bayarkan." Teman saya yang selalu saya tumpangi mengajak, namun saya mengatakan "Janganmi, sebentarpi mauja dijemput." Kataku memberi alasan. Jadilah mereka pulang duluan dan saya menunggu sampai setengah sebelas siang (saya pulang setengah sepuluh karena masih kelas dua SD) karena tidak tahu bagaimana cara saya pulang. Saya pun mulai menangis tidak tahu harus berbuat apa dan berjalan. "Ibuuuuu.. maafkan Indah, hiks hiks bodo' Indah habisi uangnya Indahhh hiks hiks... Ndak begitumi lagi nanti Ibu hiks hiks... Ibuuu, jalan kaki Indah pulang, sakit kakinya Indah hiks hiks.." itu kalimat kalimat yang tidak berhenti saya ulang. Di jalan, banyak sekali orang yang menyuruh saya berhenti, menawarkan tumpangan sembari menawarkan minuman. Namun saya menolak, tetap melanjutkan perjalanan dengan mengucapkan kalimat tadi. Setelah sampai di rumah, ternyata Ibu sudah menunggu, matanya merah dan langsung memeluk saya. Ternyata Ibu khawatir, dan ikut menangis melihat mata saya yang bengkak dan wajah saya yang pucat. Sejak saat itu, Ibu selalu menambahkan saya uang 500 rupiah sebagai uang transportasi. hehe.
Saya melanjutkan Sekolah Menengah Pertama saya di Pesantren. Ini permintaan Bapak. Sebenarnya saya tidak mau, namun apalah daya saya. Saya pun terpaksa dimasukkan ke Dalam penjara suci (itu sebutan kami). Pondok Pesantren Puteri Ummul Mukminin. Alamatnya Jl. Perintis Kemerdekaan KM.17 belakang coca cola sudiang. Saya satu - satunya dari SD saya yang melanjutkan SMP ke situ. Kemandirian saya terasah lebih baik disitu. Saya sudah mampu mengatur waktu, terlebih mengatur keuangan. Bahagianya, saya mendapat peringkat 1 umum pada saat naik ke kelas dua SMP, yang sayang tidak bisa saya pertahankan sampai saat ini. Huffftttt. Tidak ada kisah cinta spesial yang saya rasakan seperi anak SMP luar pada umumnya. Saya termasuk anak yang polos, walau saya menyukai seseorang dari pesantren lain. Hehe. Tapi itu hanyalah rasa suka biasa. Tidak lebih, yang sampai saat ini saya hanya tertawa jika mengingat bahwa saya pernah menyukainya.
Kemudian, Ibu meminta saya agar melanjutkan Sekolah Menengah Atas di Situ saja. Makanya saya pun menuruti keinginan Ibu untuk tetap disitu. Jadi, di Pondok saya ada empat sekolah, SMP Ummul Mukminin, MTs Ummul Mukminin, SMA Ummul Mukminin, dan MA Ummul Mukminin. Untuk lebih lengkapnya, nanti akan saya bahas pada lain waktu. Intinya saya memilih MA Ummul Mukminin. Awalnya, saya ingin mengambil jurusan IPS, namun di MA tidak tersedia jurusan itu. Dan keputusan saya mengambil MA lebih kekeuh daripada Jurusan IPS. Akhirnya saya hampir berhasil melewati masa Putih Abu - Abu saya di Madrasah Aliyah Ummul Mukminin dengan jurusan yang tidak sesuai dengan minat saya, tapi tak apa yang ingin saya pertahankan adalah sekolahnya, bukan jurusannya. Toh, tinggal 2 bulan lagi. Semangat!!!.
Disela - sela kesibukan saya, saya senang bisa menceritakan hal yang menurut saya membuat jari - jari saya kelelahan. Tapi setidaknya, jika cerita ini tidak menginspirasi, paling tidak cerita ini bisa sedikit menghibur. Dan.... itulah saya, gadis tujuh belas tahun dengan kesederhanaan yang semoga bisa terus terus terus terus terus tetap sederhana. Gadis dengan nama sejuta umat. Paras pas - pasan, tinggi (hampir) mendekati rata - rata dan suka ikan asin, sambel terasi, dan juga sayur asam. Sekali lagi, tidak usah susah - susah mencari nama saya di mesin pencari segalanya (google). Saya tetap disini. Tidak jauh kemana - mana, dan juga tidak dimana - mana. Karena saya selalu di diri saya, perempuan dengan mimpi punya suami yang rajin sholat lail. Hehe, semoga itu kamu. Sekian tentang perkenalan singkat kita. Hehe, semoga dengan informasi yang tidak sedikit ini, suatu hari kita bisa bertatap wajah ataupun berjabat tangan jika kamu yang sedang membacanya adalah perempuan :).
Meskipun demikian, saya hanya berusaha memperkenalkan diri saya, indah yang ini, bukan indah yang lain, walaupun ketika kau menuliskan kata indah pada mesin telusur (sebut saja google) maka yang kau temukan itu justru bukan saya, melainkan sesuatu dengan tanda kutip yang tidak di buat - buat "indah sesungguhnya". Kau coba pun mengetik 'indah amaliah' masih bukan indah yang saya yang berada pada urutan pertama. Sudah kubilang sebelumnya, banyak sekali orang yang bernama indah.
Tapi Indah Amaliah yang itu hanya ada satu di muka bumi ini, Indah yang suka makan ikan asin, sambel terasi, ditambah sayur asam. Ohiya, saya baru makan itu semua tadi sore, Itu karena saya baru pulang dari pesantren, makanya dibuatkan khusus untuk saya, bukannya mau sombong, tapi ketika baru pulang dari pesantren, kemauan saya pasti dituruti. Hehe.
Oke, saat ini saya sedang sibuk - sibuknya dalam proses memilih kehidupan saya. Namun, saya rasa saya perlu menulis ini agar merefreshkan kembali otak saya yang sesak akibat soal - soal yang tak pernah berhenti saya kerjakan akhir - akhir ini. Huufftt. Usia saya sudah hampir delapan belas. Tapi belum. Tidak usah dipikirkan mengenai usia saya, pun kalau ada yang ingin, terima kasih sudah peduli.
Saya dilahirkan dari pasangan Mustaufik Amin, dan Nurmi Amin. Anak terakhir. Bapak saya tinggal bersama kakak saya di Padang, dan bekerja sebagai Dosen di Institut Pemerintahan Dalam Negri. Dari kecil, saya terbiasa hidup bersama Ibu saya, itu sebabnya saya lebih dekat dengan Ibu dibanding Bapak saya. Bapak paling sering menelfon saya untuk menyemangati, terlebih jika mendengar kabar kalau saya sedang jatuh, you knowlah what I mean "jatuh".
Masa kecil saya di habiskan di Makassar, di Kompleks Cacad Veteran D/39 Sudiang. Terkadang, nama kompleks tempat saya tinggal memberi kesan buruk bagi teman - teman yang mendengar, namun itu bukan halangan untuk maju.right?. Saya memiliki teman dekat, namanya Yuli, yang sampai saat ini masih keep in touch. Kami berteman sejak tahun 2002, sejak permen masih menjadi hal yang paling kami rebutkan. Kami tidak pernah satu sekolah, namun kami tetap dekat.
![]() |
| Agustus 2003 |
| September 2014 |
Kemudian, saya melanjutkan Taman Kanak - Kanak (TK) di TK aini, sepertinya TK itu dibuat khusus untuk saya. Ketika saya akan masuk TK, TK itu dibuka. Namun, ketika saya sudah lulus, TK itu ditutup. Luar biasa bukan?. Namun, saya betul - betul membuktikan bahwa setelah TK itu tutup, saya mampu menjadi alumni yang luar biasa. Tulisan tangan saya dipuji banyak Ibu - Ibu di dekat rumah saya, terlebih Bahasa Inggris saya yang sudah fasih dalam menyebut alfhabet, angka, dan peralatan menulis. Itu membuktikan bahwa TK saya hebat walau dibuka khusus untuk saya. Muridnya juga banyak, sekitar 40 orang dalam satu kelas. Sayangnya Guru - Guru di TK saya sepertinya berat melepas saya sehingga sengaja menutup TK itu.
| Itu foto TK saya hehe |
Saya ingin menceritakan sedikit tentang masa kecil saya di TK, ketika itu saya kagum terhadap teman TK saya, namanya kalau tidak salah ingat 'Harianto'. Dia saingan berat saya di TK. Tapi saya kagum. Menurut saya dia cerdas dan tampan. Dia juga sering membagi bekalnya untuk saya. Tahu hal konyol apa yang saya lakukan? Saya dengan percaya dirinya menggunting kertas menjadi bagian - bagian kecil, menulis nama saya dan Harianto, lalu membagikannya kepada teman - teman saya dan mengatakan bahwa kami akan menikah. Saya berani bertaruh, saya belum tahu apa itu menikah pada saat itu. Semua Ibu - Ibu tentunya menganggap saya adalah anak yang lumayan keren, sudah mengerti apa itu menikah (dalam keadaan mereka tertawa terbahak - bahak menerima kertas dari anaknya yang mereka dapat dari saya) walau masih kecil. Ah sungguh menggelikan, sampai sekarang, pipi saya akan memerah ketika orang - orang mengingatkan saya mengenai hal itu.
Usia saya enam tahun saat masuk ke Sekolah Dasar (SD). Sayangnya, saya tidak satu sekolah lagi sama Harianto. Tapi itu bukan masalah, saya bertemu teman yang jauh lebih banyak. Walau sudah tidak ada mainan. Saya sekolah di SD INPRES PAI II, dibelakang kuburan kata orang. Tapi sekali lagi, itu bukan masalah. Saya senang bersekolah disana. Saat SD, teman - teman saya menangis ketika orang tuanya sudah pulang setelah mengantar, saya justru tidak mau di antar oleh Ibu saya. Sepertinya, saya sudah belajar mandiri otodidak dengan tidak tinggalnya saya bersama Bapak saya. Saya adalah anak SD pertama yang ikut naik pete - pete (angkot) bersama orang tua teman saya. Pernah suatu ketika, saat itu saya masih kelas dua. Saya pulang jalan kaki dari SD sambil menangis, bukan karena kelelahan. Tapi terlebih karena kebodohan saya. Jadi, dari kecil saya memang diberi jatah uang setiap harinya. Setiap hari waktu itu jatah uang saya 3000 rupiah per hari. Uang jajan saya di rumah 1000. Di sekolah 1500, uang transportasi 500 (angkot saat itu masih 200 atau 300 rupiah). Sayangnya, saya menghabiskan uang itu, berharap belas kasihan ibu untuk memberi tambahan uang, dan Ibu tidak menambah uang saya, dan jadilah saya tidak punya uang transportasi. Teman saya mengajak "Indah sini meko, samaki pulang. Nanti Mamaku yang bayarkan." Teman saya yang selalu saya tumpangi mengajak, namun saya mengatakan "Janganmi, sebentarpi mauja dijemput." Kataku memberi alasan. Jadilah mereka pulang duluan dan saya menunggu sampai setengah sebelas siang (saya pulang setengah sepuluh karena masih kelas dua SD) karena tidak tahu bagaimana cara saya pulang. Saya pun mulai menangis tidak tahu harus berbuat apa dan berjalan. "Ibuuuuu.. maafkan Indah, hiks hiks bodo' Indah habisi uangnya Indahhh hiks hiks... Ndak begitumi lagi nanti Ibu hiks hiks... Ibuuu, jalan kaki Indah pulang, sakit kakinya Indah hiks hiks.." itu kalimat kalimat yang tidak berhenti saya ulang. Di jalan, banyak sekali orang yang menyuruh saya berhenti, menawarkan tumpangan sembari menawarkan minuman. Namun saya menolak, tetap melanjutkan perjalanan dengan mengucapkan kalimat tadi. Setelah sampai di rumah, ternyata Ibu sudah menunggu, matanya merah dan langsung memeluk saya. Ternyata Ibu khawatir, dan ikut menangis melihat mata saya yang bengkak dan wajah saya yang pucat. Sejak saat itu, Ibu selalu menambahkan saya uang 500 rupiah sebagai uang transportasi. hehe.
Saya melanjutkan Sekolah Menengah Pertama saya di Pesantren. Ini permintaan Bapak. Sebenarnya saya tidak mau, namun apalah daya saya. Saya pun terpaksa dimasukkan ke Dalam penjara suci (itu sebutan kami). Pondok Pesantren Puteri Ummul Mukminin. Alamatnya Jl. Perintis Kemerdekaan KM.17 belakang coca cola sudiang. Saya satu - satunya dari SD saya yang melanjutkan SMP ke situ. Kemandirian saya terasah lebih baik disitu. Saya sudah mampu mengatur waktu, terlebih mengatur keuangan. Bahagianya, saya mendapat peringkat 1 umum pada saat naik ke kelas dua SMP, yang sayang tidak bisa saya pertahankan sampai saat ini. Huffftttt. Tidak ada kisah cinta spesial yang saya rasakan seperi anak SMP luar pada umumnya. Saya termasuk anak yang polos, walau saya menyukai seseorang dari pesantren lain. Hehe. Tapi itu hanyalah rasa suka biasa. Tidak lebih, yang sampai saat ini saya hanya tertawa jika mengingat bahwa saya pernah menyukainya.
Kemudian, Ibu meminta saya agar melanjutkan Sekolah Menengah Atas di Situ saja. Makanya saya pun menuruti keinginan Ibu untuk tetap disitu. Jadi, di Pondok saya ada empat sekolah, SMP Ummul Mukminin, MTs Ummul Mukminin, SMA Ummul Mukminin, dan MA Ummul Mukminin. Untuk lebih lengkapnya, nanti akan saya bahas pada lain waktu. Intinya saya memilih MA Ummul Mukminin. Awalnya, saya ingin mengambil jurusan IPS, namun di MA tidak tersedia jurusan itu. Dan keputusan saya mengambil MA lebih kekeuh daripada Jurusan IPS. Akhirnya saya hampir berhasil melewati masa Putih Abu - Abu saya di Madrasah Aliyah Ummul Mukminin dengan jurusan yang tidak sesuai dengan minat saya, tapi tak apa yang ingin saya pertahankan adalah sekolahnya, bukan jurusannya. Toh, tinggal 2 bulan lagi. Semangat!!!.
Disela - sela kesibukan saya, saya senang bisa menceritakan hal yang menurut saya membuat jari - jari saya kelelahan. Tapi setidaknya, jika cerita ini tidak menginspirasi, paling tidak cerita ini bisa sedikit menghibur. Dan.... itulah saya, gadis tujuh belas tahun dengan kesederhanaan yang semoga bisa terus terus terus terus terus tetap sederhana. Gadis dengan nama sejuta umat. Paras pas - pasan, tinggi (hampir) mendekati rata - rata dan suka ikan asin, sambel terasi, dan juga sayur asam. Sekali lagi, tidak usah susah - susah mencari nama saya di mesin pencari segalanya (google). Saya tetap disini. Tidak jauh kemana - mana, dan juga tidak dimana - mana. Karena saya selalu di diri saya, perempuan dengan mimpi punya suami yang rajin sholat lail. Hehe, semoga itu kamu. Sekian tentang perkenalan singkat kita. Hehe, semoga dengan informasi yang tidak sedikit ini, suatu hari kita bisa bertatap wajah ataupun berjabat tangan jika kamu yang sedang membacanya adalah perempuan :).



Tidak ada komentar: