Gejolak itu Kembali
Kau, berhasil menghancurkan benteng pertahananku sehancur - hancurnya. Dan entah untuk kesekian kalinya, aku tidak tahu alasannya.
Ada rindu yang terurai di matamu, yang kuyakini kerinduan tentang kisah kita dikala canggung belum kita perangkan. Sayangnya, aku tak berani mentap matamu untuk waktu yang lama.
Bagaimana mungkin? Setelah kukuatkan pertahananku agar tak bisa kaubterobos masuk, hancur hanya karena satu tatapan yang kau tujukan padaku? Dan ku akui, kau masih menetap di sudut hatiku, menempati sebagian kecil dari setiap doa yang kukirimkan ke langit kala malam gulita.
Saat pikiranku menyisir tentang kita, yang paling kuingat adalah kemarin sore. Tentang bagaimana aku berusaha mempercepat langkah agar bisa sejajar denganmu, atau paling tidak tentang bagaimana aku berusaha terlihat kuat, yang nyatanya aku kembali jatuh pada lubang yang sudah kututup sebelumnya.
Ingin kurangkai kau dalam aksaraku sepuas yang ku mau, kuucap tanpa pernah ku merasa tertahan, namun sejauh apapun ku mengejar, kau selalu berjalan lebih cepat, hingga yang tersisa hanyalah punggungmu yang meninggalkan.
Kita tak memiliki banyak kesamaan, dan juga perbedaan kita tidak sedikit. Yang kutau, kau membuatku jatuh cinta (lagi), setelah perjuangan untuk melepaskan rasaku yang kandas di tengah jalan. Ada magnet yang tak bisa ku tolak dari arti tatapanmu untukku, caramu menatapku yang agak canggung.
Dan seperti kemarin malam, saat hening menjadi tuannya, aku suka caramu melindungiku, dan aku harap itu bukan hanya sekedar formalitasmu untuk perempuan, melainkan karna perempuannya adalah aku.
Maaf tak kuselesaikan sepenuhnya tawaranmu untuk mengantarku sampai depan rumahku, cukup sampai disitu saja. Jika kau benar - benar siap nantinya, maka mengantar sampai pelaminan pun aku siap. Wkwkwk.
Untukmu, yang selalu mampu membuatku merasa nyaman, yang berhasil membuatku jatuh cinta lagi.

Tidak ada komentar: