Karena Ibu

Januari 02, 2018
Jika kau bertanya perihal ketulusan, maka akan kau temukan sosok “Ibu” berada pada urutan paling atas. Juga tentang kesabaran, kekuatan, cinta, dan yang paling teguh dalam mendoakan, maka tak bisa kau pungkiri; Ibu adalah pemenangnya.
Di dunia ini, tak ada seorang pun yang bisa menandingi kehebatan seorang Ibu. Bagaimana tidak? Kalimat Surga dibawah telapak kaki Ibu adalah wujud nyata bahwa Tuhan pun memuliakan seorang Ibu. Lantas? manusia mana yang akan kau bandingkan dengan seorang Ibu?.
Menitikberatkan pada sosok seorang Ibu, maka tentunya seorang Ibu punya caranya masing – masing dalam membesarkan anaknya. Ibuku, Ibumu, Ibunya. Intinya Ibu siapapun, punya caranya masing – masing. Jika Ibumu mendidikmu dengan keras, maka bersyukurlah!, kau akan tumbuh dari didikan seorang Ibu yang kuat, tegas, dan disiplin yang kemudian sifatnya akan diwariskan kepadamu, anak – anakmu, cucu – cucumu, dan terus menerus . Juga, jika Ibumu mendidikmu dengan lemah lembut, maka bersyukurlah!, kau akan menjadi wanita yang penuh dengan kelembutan, lalu sifat itu juga akan terwarisi olehmu sampai kepada anak cucumu.
Sudah kukatakan sebelumnya, tiap Ibu punya caranya masing – masing. Tak peduli bagaimana caranya, kau adalah anaknya, dan tentunya setiap anak adalah prioritas dan kebahagiaan setiap Ibu.
Tapi kali ini, akan kuceritakan kepadamu tentang Ibuku. Tentang Ibuku yang biasa – biasa saja, bukan Ibu gaul yang bajunya harus sesuai dengan warna jilbabnya. Bukan juga Ibu yang selalu menuntutku untuk memiliki nilai akademis yang baik, ataupun yang selalu menuntutku untuk rajin beribadah, ataupun Ibu yang selalu melarangku ini-itu. Tidak. Ibuku bukan seperti itu. Satu – satunya cara yang Ibu lakukan adalah membebaskanku. Membebaskanku untuk memilih apa yang aku sukai. Jika kau berkata bahwa Ibu jahat, maka tidak bagiku. Baginya, membebaskan seperti itu adalah memberi kepercayaan kepada anak, yang kemudian membiarkan sendiri anak untuk memilah baik buruknya. "Toh, kedepannya Indah yang akan menjalaninya, jadi tidak ada hak Ibu untuk melarangnya, justru Ibu harus mendukungnya, tentunya dengan memberikan masukan tentang baik buruknya." Kata Ibuku saat kutanya mengapa begitu membebaskanku.
Ibuku biasa – biasa saja. Bahkan banyak yang tidak suka caranya mendidikku. Tapi Ibuku membuktikan, bahwa aku anaknya tidak masuk kategori anak nakal. Meskipun aku bukan anak berprestasi yang  nilai akademisnya selalu tinggi di sekolah, setidaknya Ibuku sudah membuktikan, bahwa anaknya bahagia, dan menekuni bidang apa yang diinginkannya. Anaknya bahagia, dan tidak ada paksaan yang menjadi beban untuk hidupnya kedepan.
Dan aku, jatuh cinta pada cara Ibu mendidikku. Aku jatuh cinta tentang segala hal biasa – biasa saja yang ada pada dirinya. Karenanya, suatu saat nanti.. Jika Tuhan mengizinkanku, akan kutulis sebuah buku tentangnya, tentang sosok Ibu biasa – biasa saja yang akan memberikan kebahagiaan penuh untuk anak – anaknya.

Dan karenanya, akan kuwariskan sifat – sifatnya dalam mendidik anak – anakku kelak, hingga dunia tahu bahwa seorang anak tidak suka hidup dalam keterpaksaan.
Dan untuk setiap Ibu di belahan dunia manapun, Terima Kasih. Sesungguhnya segala hal yang sedang diupayakan anakmu adalah untukmu kemudian. Percayalah.
Jika kau melandaskan ‘percaya’ terhadap segala keinginan anakmu, maka anakmu akan mengembalikan kepercayaan itu, seperti yang dilakukan Ibuku.
Oleh karenanya, untuk setiap anak perempuan yang kemudian akan menjadi Ibu.., jadilah sebaik baik Ibu, sebab keterbaikan dari dunia, tergantung seberapa baik seorang Ibu dalam mendidik anak – anaknya. Berbanggalah dan berbahagialah!

Untuk setiap Ibu yang tidak pernah berhenti memperjuangkan mimpi anaknya,
Anakmu membutuhkanmu!.


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.