Kepada Bintang, di Langit dan Bumiku.
Aku tidak mengerti, bagaimana tentang kita dengan sigapnya memenuhi pikirku tatkala kenangan menyeruak berseru. Seperti saat kutemui orang - orang yang juga berbicara tentangmu; atau saat kulewati jalan - jalan penuh makna (bagiku) milik kita, yang namanya kusamarkan jadi jalan edelweiss -meskipun bukan hanya jalan itu, hatiku memberi tapi. Sebab, terlalu banyak nama jalan yang harus kusamarkan bila harus kusebutkan satu persatu.
Aku (masih) tidak mengerti, bagaimana bayangmu masih menempati ruang paling istimewa dalam lubuk hatiku. Meski sudah berkali - kali kutepis, tapi masih ada perih tatkala kenangan meminta untuk diperhatikan lebih dibanding biasanya.
Aku (masih juga) tidak mengerti, bagaimana hatiku menolak menggantikanmu dengan yang lain. Memilih menutup pintunya rapat - rapat, menggemboknya, lantas kuncinya raib entah kemana. "atau, hanya kamu kunci yang aku punya?" tanya hati menolak kunci - kunci lainnya.
Aku (bahkan masih) tidak mengerti, bagaimana imajinasiku hidup, tulisanku menyala jika harus berbicara tentangmu, seperti saat ini; dimana rinduku meminta untuk bercerita tentangmu (lagi) -sebab tulisan - tulisan lama tentangmu sudah kuhapus seiring dengan (kukira) terhapusnya rasaku untukmu.
Dan yang paling tidak kumengerti, mengapa aku masih saja menyayangimu? Meskipun kamu bersepakat dengan semesta, bersekutu dengan bumantara untuk mempermainkan rasaku (?)
Aku tidak (akan pernah) mengerti. Atau mungkin belum?
Sebab, dalam rasa milikku yang kamu tolak mentah - mentah, dalam asa yang mungkin hanya bisa kuurai dalam kenangku, aku menyayangimu. Meski kamu, semesta, dan bumantara membantahnya.
Dariku,
Gadis dengan harap untuk membersamaimu,
yang kamu hempas dan disetujui semesta.


Tidak ada komentar: