Pandemi Covid 19 dan Sistem Pendidikan Kita
Belum habis 2019 menggenapkan revolusi, makhluk Tuhan berukuran 20 mm yang kemudian dikenal dengan nama Corona karena bentuknya yang menyerupai mahkota (Coron), menghadirkan diri untuk menggemparkan dunia lantaran World Health Organization sudah mengategorikannya sebagai pandemi atau epidemi penyakit yang menyebar luas dalam tingkat benua atau dunia. Keberadaan virus ini sebenarnya sudah diprediksi oleh beberapa peneliti dari Research Center For Infection and Immunology Hongkong yang menyebutkan bahwa hanya menunggu waktu, mutan jilid 2 ini akan muncul dan memberi efek yang lebih signifikan. Dan, Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19 ini memilih Wuhan sebagai Kota Kelahiran, di penghujung 2019.
Berbagai asumsi bermunculan, dari stigma hingga jadi dogma. Mulai dari teori konspirasi, senjata biomedik, kepentingan politik, dan sebagainya. Apa dan bagaimanapun itu, Covid 19 ini telah menggusarkan dunia. Pemerintah dari berbagi Negara pun telah menerapkan anjuran WHO untuk physical distancing atau pembatasan jarak, bahkan tidak tanggung-tanggung menerapkan lockdown atau Karantina Wilayah. Tentu hal ini mengubah banyak pola hidup masyarakat yang notabenenya adalah makhluk sosial. Bahkan dalam beberapa postingan kawan saya, katanya inilah pertama kalinya pepatah 'bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh' tidak bisa diterapkan dalam kehidupan sosial. Karena dalam aspek apapun kehidupan, sekiranya berkumpul dan berserikat adalah sebuah keharusan, maka hal itu harus diletakkan pada pilihan paling terakhir. Tagar #dirumahaja pun menjadi gerakan untuk terus berada di rumah dan memutus matarantai si mutan covid 19 ini.
Hal ini tentulah membuat masyarakat dunia, utamanya Negara Kita -Indonesia, sedikit banyak harus memperbarui sistem dalam menghadapi pandemi ini, khususnya dalam dunia Pendidikan. Bagaimana tidak, wadah pengetahuan yang selama ini menjadi tempat menuntut ilmu harus ditutup dalam jangka waktu yang tidak diketahui. Dan segala bentuk proses belajar-mengajar juga harus dilaksanakan secara daring (dalam jaringan) juga untuk waktu yang tidak diketahui. Tentu ini membuat siapapun terpaksa untuk beradaptasi dengan sistem yang seperti ini, baik pengajar maupun pelajar, bahkan sampai ke orang tua si pelajar.
Kedatangan Covid 19 ini rasanya menegaskan ketertinggalan sistem pendidikan kita. Bayangkan saja, saat negara-negara lain sudah menciptakan teknologi baru, menjemput revolusi 4.0, kita bahkan masih merangkak, terbata-bata, tak jarang tersandung-sandung dalam menggunakan wadah berbasis teknologi ini, bahkan mungkin belum mahir menggunakannya. Google classrom, misalnya.
Umumnya, kita mengeluhkan kesulitan belajar via daring yang diberlakukan pemerintah dalam satu semester ini sebagai salah satu penanggulangan covid 19. Bukan karena kegagapan dalam mengakses aplikasinya, melainkan salah satunya karena tidak ramahnya harga paket data dengan isi kantong. Belum lagi, ketersediaan jaringan di beberapa daerah yang dirasa sulit untuk mengakses internet. Jangankan internet, listrik dan jaringan seluler saja masih belum ada di beberapa daerah di Indonesia kita ini. Sebab, hampir semua kalangan masyarakat utamanya pelajar memilih untuk menikmati masa pandemi ini di kampung halaman tercinta yang boleh jadi wilayahnya masuk dalam kategori no internet access.
Sangat disayangkan. Cita-cita negara perihal kesejahteraan pendidikan berbanding terbalik dengan akses internet yang dirasa kurang memadai atau bahkan tidak ada sama sekali. Pemberlakuan daerah free wifi pun masih merupakan hal yang tabu, bahkan sebagian masyarakat masih belum mengerti apa itu wifi. Dalam rentetan revolusi industri 4.0 yang diagung-agungkan ini, kita samasekali belum, bahkan tidak siap bilkhusus dalam bidang pendidikan. Ketertinggalan demi ketertinggalan, covid 19 menegaskannya.
Kita masih akan tertinggal apabila pemerataan akses internet berbasis free wifi masih dianggap hal yang tabu, mubazir dan berlebihan. Sebab, pemerataan akses wifi adalah kemerdekaan bagi siapa saja untuk mengakses berbagai referensi secara bebas. Sekali lagi, pandemi covid 19 ini benar-benar menegaskan ketertinggalan kita.
![]() | |
| Source : Google |


Mantu
BalasHapusAku tau maksudmu mantu kurang l. Siapapun kamu, terima kasih ehehe
Hapus