Berkaca pada Kleopatra
Kita semua tahu Kleopatra. Seorang Ratu Mesir yang abadi dengan kecantikannya. Menjadi rujukan kaum hawa untuk mecoba segala jenis perawatannya, dari mandi susu campur madu tambah almond hingga segala jenis scrub-scruban agar tetap cantik, bugar, dan awet muda. Bahkan namanya, masih yang tersohor sampai detik ini sebagai ikon kecantikan di jagad raya. Konon, saudaranya sendiri sampai jatuh cinta padanya. Jika dalam sudut pandang si laki-laki, siapa yang tidak akan terpesona dengan kecantikan abadi milik sang Kakak? Ditambah aturan yang mengharuskan, lengkap sudah kebahagiaan berpihak pada si Adik. Menggelikan sekali jika itu terjadi di zaman sekarang.
Aku baru saja membacanya pada beberapa referensi tentang Kleopatra. Dan aku begitu tersihir padanya, membuatku ingin menjadi Kleopatra(?) wqwq. Tidaklah Ahahaha. Bukan, bukan sekadar karena Ia cantik, tetapi lebih kepada kecerdasannya. Barangkali inilah yang membuatnya semakin mempesona. Dia seorang Ratu. Adakah Ratu yang tidak dimuliakan Rakyatnya? Dan dengan predikat ratu tentunya tidak main-main ia dalam mempertanggungjawabkan predikatnya.
Dalam perannya sebagai Ratu, Kleopatra disebut handal dalam berbagai hal. Tidak ada yang diragukan darinya mulai dari kecerdasan, diplomasi, kepemimpinan, Penguasaan Bahasa, bahkan kecantikan. Paket yang sempurna apabila disatukan dalam model perempuan masa kini. Tidakkah kita malu pada Kleopatra? Ia sempurna sebagai perempuan. Sedang kita?
Benarlah bahwa kita harus banyak berkaca pada Kleopatra. Perkara menyeimbangkan antara intelektualitas dan kecantikan, sebab ianya tidak boleh menyimpang. Kecantikan tanpa intelektualitas adalah kosong, dan intelektualitas tanpa kecantikan adalah hambar. Keduanya hanya bermuara pada ketidakseimbangan, pincang.
Konon Kleopatra meninggal dengan keadaan mahkota masih diatas kepalanya, Ia tak pernah kehilangan takhtanya, kebanggannya. Ia lebih memilih mati dibanding jatuh ke tangan lelaki yang akan menghina dan merenggut keratuannya. Patutlah jika legenda tentang dirinya tak lekang oleh waktu.Dari sini kita dapat simpulkan bahwa Kleopatra adalah Ratu yang sangat berani.
Karenanya, mari banyak berkaca pada Kleopatra, bahwa untuk menjadi Ratu -bagi siapapun, intelektualitas dan kecerdasan harus berbanding lurus disertai keberanian yang mengakar kuat. Terakhir, kita jangan mau dibutakan rayu, sebagaiamana Kleopatra. Sekali lagi sebagai penguat yang sudah-sudah, kita harus banyak-banyak berkaca padanya.
Aku baru saja membacanya pada beberapa referensi tentang Kleopatra. Dan aku begitu tersihir padanya, membuatku ingin menjadi Kleopatra(?) wqwq. Tidaklah Ahahaha. Bukan, bukan sekadar karena Ia cantik, tetapi lebih kepada kecerdasannya. Barangkali inilah yang membuatnya semakin mempesona. Dia seorang Ratu. Adakah Ratu yang tidak dimuliakan Rakyatnya? Dan dengan predikat ratu tentunya tidak main-main ia dalam mempertanggungjawabkan predikatnya.
Dalam perannya sebagai Ratu, Kleopatra disebut handal dalam berbagai hal. Tidak ada yang diragukan darinya mulai dari kecerdasan, diplomasi, kepemimpinan, Penguasaan Bahasa, bahkan kecantikan. Paket yang sempurna apabila disatukan dalam model perempuan masa kini. Tidakkah kita malu pada Kleopatra? Ia sempurna sebagai perempuan. Sedang kita?
Benarlah bahwa kita harus banyak berkaca pada Kleopatra. Perkara menyeimbangkan antara intelektualitas dan kecantikan, sebab ianya tidak boleh menyimpang. Kecantikan tanpa intelektualitas adalah kosong, dan intelektualitas tanpa kecantikan adalah hambar. Keduanya hanya bermuara pada ketidakseimbangan, pincang.
Konon Kleopatra meninggal dengan keadaan mahkota masih diatas kepalanya, Ia tak pernah kehilangan takhtanya, kebanggannya. Ia lebih memilih mati dibanding jatuh ke tangan lelaki yang akan menghina dan merenggut keratuannya. Patutlah jika legenda tentang dirinya tak lekang oleh waktu.Dari sini kita dapat simpulkan bahwa Kleopatra adalah Ratu yang sangat berani.
Karenanya, mari banyak berkaca pada Kleopatra, bahwa untuk menjadi Ratu -bagi siapapun, intelektualitas dan kecerdasan harus berbanding lurus disertai keberanian yang mengakar kuat. Terakhir, kita jangan mau dibutakan rayu, sebagaiamana Kleopatra. Sekali lagi sebagai penguat yang sudah-sudah, kita harus banyak-banyak berkaca padanya.
![]() |
| Sumber Gambar : Gugel |


Tidak ada komentar: