Sisa-sisa 22 Desember
Di luar hujan. Ini tentunya mendera jiwa bebasku berkali-kali agar tidak keluar rumah, terpenjara. Tapi tetap saja, Alhamdulillah.. Allahumma shayyiban naafi'aan. Jika sudah seperti ini, rasanya imajinasiku semakin melangit. Sesekali diselingi insecure sambil mengandai-andai perkara yang sudah lalu. Astagfirullah.
Tiap kali hujan, aku selalu terbayang kehangatan Rumah, apalagi Ibuk. Teh hangat manisnya. Camilan ringannya, apalagi cerita-ceritanya yang susah payah dia kumpulkan untuk disajikan buatku. Padahal, sebagai pewaris gen Bapak garis keras, aku tipikal yang tidak suka berbasa-basi dalam hal demikian. Paling sesekali cuma kuhadirkan sabit terpaksa hehe. Durhaka sekali, yaa, aku. Tapi sungguh, aku tidak suka sekali berbasa-basi pada hal-hal yang tidak penting. Dulu sih senang, tapi semua berubah sejak negara api menyerang (read patah hati, uhuk uhuk). Syukurlah pandemi ini harus merumahkan siapapun, alhasil, masa-masa hujan seperti ini bisa kunikmati bersama Ibuk. Meski lebih sering kuhabiskan untuk bergumul di dalam selimut sambil memandangi gawaiku yang tidak bisa kulepas-lepas.
Ada satu hal yang tidak bisa kumengerti tentang Ibuk. Beliau seperti selalu memberi radar agar aku tidak melancong jauh kemana-mana. Padahal itu adalah keinginan terbesarku!. Sedari dulu, aku selalu melihat garis wajah tidak relanya saat aku hendak berpergian. Apalagi saat kuutarakan keinginanku dulu untuk kuliah di Pulau Jawa. Pun, saat kuperlihatkan undangan-undangan kelulusanku untuk kuliah di Jawa berkat kerja kerasku, Ibuklah yang berada di garda terdepan dan menepis undangan-undangan itu. Aduh, membahas ini aku jadi mellow sekalii. Barangkali hal ini pula yang membuatku setengah-setengah dalam bermimpi, karena aku tahu bahwa semburat sedih di wajah mamaku adalah satu hal yang memberatkanku untuk melangkah. Syukurlah saat kumeminta lebih, Ibuk seperti paham akan mimpi-mimpiku. Sedikit-sedikit digugurkannya larangan-larangan itu agar nantinya aku juga punya kumpulan cerita yang bisa kusajikan buat anak-anakku.
Mungkin dalam banyak kesempatan, kusampaikan berulang-kali bahwa Ibuku adalah perempuan paling sederhana dalam kesederhanaan hidup. Paham beberes ataupun berdandan adalah hal yang tidak penting baginya. "Yang penting rapi, Nak", tuturnya selalu saat kucoba mendobrak sudut pandangnya tentang beberes ataupun berdandan. Tapi aku rasa sah-sah saja, justru itulah anjuran sebenarnya bagi muslimah hehe. Umm, Indah yang seharusnya mundur dengan ego di kepala perkara itu, Mak wkwk.
Apapun itu, tetap saja. Bagi seorang Ibu.. do'anya bahkan hanya berisi keterbaikan atas mimpi-mimpi anaknya, cita-cita sang buah hati. Jauh di atas mimpi-mimpinya. Bagaimana seorang Ibu memohonkan kepada Sang Pencipta untuk keterbaikan anak, tidak ada yang mampu menandingi ajaibnya. Akan begitukah aku nanti kepada anak-anakku, Buk?
Maka kurasa, wajar saja bahwa 22 Desember dipatenkan menjadi Hari Ibu. Sebab, tidak ada yang mampu menyandinginya perihal cinta dan ketulusan. 22 Desember, menjadi bukti kekuatan seorang Ibu memperjuangkan mimpi-mimpi anak-anaknya. Dunia saja diberikannya kepadamu, apalagi surga yang jelas-jelas di bawah telapak kakinya. Hehe.
![]() |
| Source : Google |
Setiap hari adalah 22 Desember, I Love you Mother!


Tidak ada komentar: