Sembilan Semester, Alhamdulillah!

November 24, 2021

Alhamdulillahi Bini'matihi Tatimmus Shaalihaat.
Segala Puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan jadi sempurna.

Juli lalu, saat diberitahu aku harus menambah lagi satu atau dua semester karena ternyata aku lalai dalam mencentang mata kuliah, rasanya duniaku menjadi semakin runtuh. Terlalu rapuh bahkan untuk sekadar menumpah-numpah air mata. Aku rasanya ingin mati saja.


Bagaimana tidak? Persis semalam sebelum ujian hasil, aku diberitahu bahwa mata kuliahku kurang satu dari yang seharusnya. Kira-kira begini isi percakapanku bersama Kaprodi malam itu..
Kaprodi    : Eh, kamu kenapa mata kuliahnya cuma 64, sementara temanmu 65?
Me            : *panik* Eh iyakah, Bu? Kokbisa *emot-sedikit-cry* padahal saya rasa aman-amanji..
Kaprodi    : Aduh bahaya ini, jangan sampai kamu ndabisa selesai semester ini, nanti saya re-check lagi.
Me            : *masih panik* Iyee Bunda, mohon bantuannya.
Semalam itu, aku belum menyadari bahwa ada sesuatu fatal yang membuatku harus menambah semester, aku kira itu hanya prank dari Kaprodiku sebelum lulus *geer sekalika yawlah, sumpah*.


Subuh sekali sekitar pukul 05.00 WITA, Kaprodiku kembali menghubungi dan menyuruh banyak berdoa terkait kasusku semalam. Kurang lebih beliau mengusut kasus mata kuliahku yang tidak terprogram. And it SERIOUS, bukan PRANK. Sejak subuh itu, air mataku tidak berhenti bercucuran.



Entahlah, aku merasa gagal mendeskripsikan bagaimana sedih, patah, dan runtuhnya duniaku hari itu. Jika mengingatnya hari ini, tawa adalah jawabanku. Sebab, geer sekali aku merasa diPRANK. Hahaha. I just feel that day was one of my worst day. Seharian menangis, merendam kepala di balik bantal, bergumul dengan segala kecewa yang berkecamuk, membesarkan segala alasan yang kuatur di kepalaku sebab sembilan semester rasanya terlalu memalukan untukku sebagai sejarah hidup.


Hari itu, jangankan untuk bertemu siapa-siapa.. ucapan iba dari kawanku pun membuat air mataku menderas lagi, lagi, dan lagi. Aku harus menunda semuanya; mimpi-mimpi, rencana-rencana, bahkan apapun. Mengajukan satu semester ke Ibu-Bapak satu semester lagi pun rasanya sangat memalukan. Apalagi, bebasnya aku semasa kuliah pun dibayar janji lulus tepat waktu delapan semester. Dan janji tinggallah janji.


Mungkin memang benar bahwa saat menangis, kita tidak memerlukan mulut yang senantiasa menyuruh berhenti menahan lajunya, ataupun tangan yang senantiasa sigap menghapus turunnya. Sebab saat tangisku yang tidak bisa berhenti hari itu, bahkan sekadar untuk dikuatkan aku tidak butuh. Aku hanya ingin membiarkan semuanya lebur di antara riuh gelombangnya yang berlomba-lomba keluar. Tangisku hanya ingin didengarkan di antara isak yang tidak satupun mau mengalah derunya. Sebab, siapa lagi yang mau menambah semester hanya untuk satu mata kuliah yang dalam prosesnya aku bahkan jadi kebanggaan Dosen Pengampunya?


Mata kuliah itu, aku ingat sekali siapa dosennya. Beliau bahkan meminta dipindaikan catatanku lantaran betapa beliau mengandalkan aku sebagai mahasiswanya. Juga, aku dijadikannya -sebutlah asisten dosen- untuk mengajari kawanku yang reguler mata kuliah itu. Dan ternyata, aku harus menceklis ulang mata kuliah semester enam itu di semester sembilan. Dan etelah menangis seharian tanpa diinterupsi, aku merasa lega sekali. Selapang itu. Aku bahkan tidak malu lagi saat ditanyai harus tambah semester. I felt that PLONG. Alhamdulillah 'alaa kulli haalin.


Days by days, Allah selalu punya kejutannya. Atau mungkin, ini jawaban dari doa-doaku yang ingin memaksimalkan "passion" sebelum melangkah ke dunia kerja. Alhamdulillah, mulai dari mengajar, tawaran MC-ing, magang, satu persatu dihadapkannya denganku and it will guide me to my dreams. Mungkin sekarang aku masih dilema dalam mempertimbangkan langkah selanjutnya kehidupanku, tapi setidak-tidaknya...

Sembilan semesterku tidak semenyedihkan itu. Allah selalu punya rencana yang luar biasa. Bismillah.



Samata, 20 Rabiul Akhir 1443 H.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.