Bertahan Pada Pilihan

September 26, 2019
Tigawarsa terakhir, tak berhenti orang-orang bertanya dan menghakimi pilihanku, bahkan tidak sedikit yang terang-terangan tak lagi mau menaruh pembicaraan, juga menunjukkan sifat abainya, merendahkan.
"Kenapako bertahan di jurusanmu?"
"Kenapako nda daftar SB lagi atau PBSB?"
"Bodohnya Ame' nda daftar lagi dehh!!"
"Kan kau calon tukang mesjid yang ukur-ukur kiblat HAHA"
"Andaikan daftarko lagi SB atau PBSB.."
"Ame toh, saya kurasa nyesal kau nda daftar lagi.."
"..."
"..."
".."
Dan kalimat-kalimat serupa yang sama maknanya.
Ketahuilah saat itu, aku merasa berantakan. Termangu atas kalimat lontaran kalian yang membinasakan semangat serta asa baru yang sedang kubangun. Seolah -olah, pilihanku ini salah bila dipertahankan. Menepis semua yang kalian ucapkan padaku kala itu, biarlah kuikat kali ini alasanku dalam tulisan. Biar jadi kenangan bahwa sudah berlalu tiga-puluh-enam purnama, dan baru sekarang aku berani mengungkitnya, mengucapnya pada tinta online dalam lembaran blogger, setelah kupahami benar arti dari penerimaan diri. Benarlah kiranya bahwa syukur adalah wujud bahagia paling sederhana berdampak luar biasa. Sebab, rasa syukurku menjalani status sebagai mahasiswi dengan jurusan yang kalian kecilkan, rasanya manis sekali. Semut pun cemburu melihat sabitku yang tidak berhenti berpendar.

Kalau kuceritakan, sudikah kalian tidak lagi mengugurkan semangatku? Semoga saja.


Lagi-lagi, pada ceritaku kali ini.. sosok yang paling berperan adalah Ibu. Perempuan dengan kematangan akal paling sederhana, tidak rumit dan tidak pernah menuntut apapun dariku. Tau apa yang dia bilang?

"Kalau nyamanmi Nak, menetap saja. InsyaAllah berkah. Ibu juga dukungji. Sekali lagi tidak perluji Indah susah-susah belajar jadi dokter atau apapun itu. Jadi orang biasa saja Nak, bermanfaat. Kemarin juga sudah dipercaya terima beasiswa, masa mau tinggalkan begitu saja Nak"

Ajaib sekali kalimat Ibuku, selalu meneduhkan. Maka sudah sepatutnya kusamiri Ibuku sebagai perempuan paling sederhana dalam kesederhanaan hidup. Tidak pernah kutemukan Ibuku memaksaku melakukan apa yang dimauinya. Juga perihal pilihan, maka bisa kau letakkan namaku pada baris paling atas.. akulah anak yang tidak pernah ditentang keinginannya dalam menggenggam duniaku. Benarlah kiranya bahwa semakin dilarang seseorang maka semakin besar pula keinginannya untuk menentang, maka pada sikap membebaskan Ibuku, aku memilih bertahan, tidak menentang. Menetap dan menghargai langkah apa yang sudah kuambil. Menjalaninya seberharga capaian selanjutnya. Sebab, bukan "menentukan" pilihan yang paling sulit, melaiankan bertahan pada pilihan.
Laksana Ombak yang senantiasa bertahan menggulung,
 meski diabaikan oleh sang pasir.
Akhirnya, keindahan pantai selalu berhasil menjadi tempat menumpahkan penat dan sengsara.

Maka Kasih, suatu hari nanti.. bila telah kau labuhkan hatimu untuk memilihku, taruhlah aku dalam urutan paling atas do'a-do'amu, minta Kepada Tuhan agar dimantapkan hatimu untuk senantiasa bertahan pada pilihanmu. Sebab, dalam kebersamaan kita yang (semoga) panjang nanti, akan kau temukan aku yang tidak sesuai harapmu, dambamu, inginmu, juga maumu. Ketahuilah pada saat itu, aku selalu siap menjadi pelukan yang bungkam agar senantiasa kau kokohkan pertahananmu atasku.

2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.