Meradiasikan Cahaya
Tidak ada yang bisa benar-benar bisa menyimpan sesuatu sendirian. Termasuk rahasia. Akan selalu ada mulut-mulut bungkam sebagaimana harapmu yang selalu ingin kau mintai untuk didengarkan. Sekalipun yang kau butuhkan hanyalah kertas dan pena untuk menuliskan sesuatu yang kau anggap akan kau simpan sendiri.
Sekali lagi, tidak ada yang benar-benar mampu menyimpan sesuatu sendirian. Akan selalu ada bibir-bibir manis yang merancau seolah tak ingin ketinggalan dalam berbagi. pun tulisan yang tak ingin bungkam.
Jadi, sudahkah kita membagi semuanya secara gamblang dan benar tepatnya?
Atau, yang kita bagi hanyalah apa-apa yang sebenarnya dalam tanda kutip adalah bukan milik kita? kisah milik orang lain contohnya, rahasia yang bukan lagi rahasia orang lain misalnya, dan jangan sampai, hal yang paling ingin disembunyikan orang lain pun sudah kita bagi.
Bukankah fitrah manusia adalah menjaga sesuatu berharganya untuk tetap menjadi miliknya, enggan berbagi sesuatu berharga miliknya untuk sesama, mengonsumsi milik pribadi untuk diri sendiri, begitu kan(?), enggan membagi, seperti membagi cahaya(mu) misalnya.
Agar kemudian, hanya (kamu) yang punya cahaya saja yang kilau dengan sendirinya. Menelan keangkuhan yang terbit bersamaan dengan rakusnya ambisi pribadi.
Kamu mungkin tidak paham, aku menyerukan bahwa tidak ada yang benar-benar mampu menyimpan kesendirian di awal, namun aku kembali menepis dengan dalih bahwa fitrah manusia adalah tidak membagikan sesuatu berharganya.
"Sungguh ketidak-konstanan dalam berasumsi", begitu mungkin tuturmu. Tidak terima.
"Aku tidak mengatakan bahwa 'kamu' yang seperti itu, aku sedang memukul-rata realita, bahwa memang kita-lah yang seperti itu. Senantiasa berbagi sesuatu yang bukan milik kita, namun enggan berbagi cahaya", Kujawab lantang sarkastisme-mu dalam bertutur bahwa dalam perspektifku, itulah kita.
Aku, menemukan banyak sekali matahari disini. Sinarnya benderang berkali-kali. Sendiri-sendiri. Sedangkan dengan atau tanpa disadari, gulita berceceran disekitar kita. Bagaimana bisa?
Artinya, aku benar. Kebanyakan dari kita, berlagak sok tahu sudah membagikan apa yang kita rasa perlu, padahal hanya omong kosong tentang orang lain yang sebenarnya tidak manfaat yang kita bagi; 'aib saudara' namanya. Disamping itu, kita menyimpan cahaya kita hingga menumpuk. Lupa bahwa cahaya matahari itu menyinari dunia, bukan sebatas dirinya sendiri.
| Jika setiap orang adalah matahari, maka setiap dunia tiap orang adalah kehidupan yang harus disinari. Begitupun aku, kamu, juga kita, mengapa tidak mencoba menyinari dunia masing-masing? |
Memancarkan dan membagi cahaya itu tidak berarti meredupkan nyala kita. Justru akan terjalin siklus memancarkan yang luar biasa. Sebab selain cahaya, apalagi yang bisa kita bagi?
Untuk berbagi cahaya, tidak perlu bersusah payah menanggalkan sinar itu dari dirimu. Cukup menyebarkan; meradiasi siapapun agar juga berkilau, gemerlap, dan meninggalkan kegulitaan. Biar mengalir dengan sendirinya.
Jadi pada sapa juga temu kita selanjutnya biar bukan gibah lagi yang kita bagi, tapi cahaya. Ingat ya, CA-HA-YA. Biar kau jadi cahaya di hati tiap-tiap manusia yang sudah kau sinari.
Jadikan aku cahayamu, ya?

Tidak ada komentar: