Mengamunisi Semangat
Pada suatu titik, terkadang terbesit pikiran untuk segera menyudahi mimpi. Mengabaikan kesepakatan dengan diri untuk terus memacu semangat.
"Terlalu jauh untuk memburu timur, pun terlalu melelahkan apabila berbalik menuju barat."
Maka pada titik itu, menyerah menjadi solusi paling menawan yang ditawarkan kekalahan. Berhenti disitu, lalu mengerahkan segala pengembaraan pada sesuatu bernama usai, atau alih-alih menjatuhkannya pada satu hal lain yang disebut puas.
Hingga pada detik jam hari minggu bulan dan tahun berikutnya, tersisalah sebuah kecewa yang kemudian dimaknai sebagai sesal. Menyalahkan, mengandai-andaikan, menolak, bahkan membanding-bandingkan diri sendiri. Membunuh semangat-semangat yang hendak dihidupkan kembali.
Namun pada saat itu kau temui, bertahanlah. Jangan biarkan kekalahan merebut energimu. Pertahankan semangat itu. Cambuk lagi, kobarkan lagi, pacu lagi, hidupkan lagi. Akan selalu ada penghalang pasti, akan selalu ada pergejolakan batin memang. Bahkan suara-suara menang segera berbalik mengundurkan diri dari medan perang.
Maka pada saat seperti itu, benarlah kiranya bahwa bukanlah ego yang paling membahayakan, melainkan semangat yang hilang, redup dan dirampas dari perapian. Siapapun bisa menurunkan intensitas ego dengan mudahnya. Namun, untuk mengobarkan semangat yang telah redup, terlebih dahulu harus mencari bahan bakarnya. Dan bahan bakar semangat hanya bisa ditemukan pada diri sendiri.
Meminjam dialogNya dalam sebuah najm sebagai penguat "Wa al laisa lil-insāni illā mā sa'ā" bahwa semangat harus senantiasa mengakar dan menjadi landasan dari setiap kobaran api atas cita dan cinta yang sedang diperjuangkan. Bertahanlah, siap sedia atas segala kemungkinan yang berdatangan. Terhadap terpaan angin yang tidak lagi sepoi dan kian berbadai, ataupun atas matahari yang tidak lagi hangat dan semakin membakar. Just gotta keep trying! Gotta keep our head help high.
Jangan sampai, semangatmu dirampas diam-diam oleh sekelilingmu, dihunus kejam oleh pedang dirimu sendiri. Jaga ia, jadikan sebaik-baik amunisi dalam keadaan dan kondisi apapun. Sebab, apabila semangat telah tandas dari jiwa seseorang, maka tak lagi ada cita serta cinta dalam kehidupannya, mati tak bersisa. Dirimu, semoga tetaplah menjadi stimulan bagi alam.
![]() |
| This pict was taken when I was 14, I like sky so much It keeps my spirit when I looked at; |


Tidak ada komentar: