Tidakkah menjadi Berpendidikan adalah Keharusanmu, Duhai Perempuan?
Kiranya, perempuan dan peradaban adalah dua hal mutlak yang tidak terpisahkan. Ibarat suatu bangsa dan ideologinya. Untuk itulah sebagaimana mestinya, perempuan haruslah memiliki ilmu, berpendidikan, serta yang paling utama adalah kecerdasan. Dan, terima kasihku selalu kunomorsatukan kepada Ibuku, perempuan paling berharga, paling kucinta, paling istimewa -paling semua-muanyalah, yang padanya kuperuntukkan segala daya dan upayaku untuk menggapai dunia menuju surga-Nya.
Dua tahun kemarin, aku terseok-seok menapaki aspal terjal yang begitu penuh gelombang. Aku ingin jadi diplomat -yang mungkin karena iming-iming dunia, didukung opini teman-teman mengandalkan kebisaanku, serta obsesi jaket putih bertengger di bahu, ingnku- jungkir balik ingin menjadi dokter. Tidak seorang pun menolak, kecuali Ibu. Bagaimana bisa? Satu pilihan besar hidupku ditolak mentah-mentah oleh orang nomor satu-ku. Tidak direstui. Tidak berkah kata Ustad-Ustadzahku di pondok.
"Bosan ji nak kalau mau ambil FK, berat sekali" Kata Ibuku.
"Janganmi ambil FK nak, berat sekali. Ibu saja yang dulu di Biologi akui berat sekali FK, nda bisa Indah, apalagi nda teliti memangmi dan karapa-rapa (terburu-buru) orangnya" Tambahnya semakin membuatku kesal.
Hal yang paling kusyukuri sampai saat ini adalah, seberapa besar larangan ibu kala itu untuk membiarkanku memilih apa yang kumau, dia tetap merelakannya. Tidak pernah memaksaku melakukan bahkan menuruti kemauannya. Dan benar saja, dengan sombongnya aku menganggap lalu omongan Ibu kala itu. Merasa diri bahwa ini hidupku, hanya diriku yang boleh membenarkan dan memilih jalanku.
Lucunya, kegagalanku tahun itu benar-benar beruntun. Semua Fakultas Kedokteran yang kudaftari seperti bersepakat menolakku. Beberapa menerimaku di jurusan lain, tapi aku ngotot tidak mau. Harus JAS PUTIH. Dengan kesombongan yang semakin menjadi, kubilang tahun depan saja daftarnya. Toh, menjadi seperti ketapel itu tidak buruk, melangkah mundur kemudian berlari, lalu meloncat untuk lebih maju. Tidak salah kan persepsiku?
Kalau kau tanyakan bagaimana perasaanku saat itu, tentulah aku sedih. Bagaimana Tidak? Aku yang penuh percaya diri, meyakini kebisaanku, yang semua temanku bahkan mengiyakan, ternyata tidak lulus dengan mauku.
"Nda lulus betulko Ame'?," Tanya seorang teman.
"Ah, masa nda lulus? Balle (Bohong) ine" Yang lain menimpali.
"Kenapa nda disitu saja yang dilulusi, kalau disitumi rejeki" Tambah yang lain seperti sok tahu sekali tentang hidupku.
Tapi bukan itu letak kesedihan mendalamku, karena yang membuatku paling frustrasi adalah kenyataan bahwa Tuhan membenarkan pilihan Ibuku, menjatuhkanku mentah-mentah dalam jurang kesombongan. Fakta bahwa Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) yang diselenggarakan oleh Kementrian Agama -yang kuyakini akan kulihat namaku tertera disana- ternyata membuatku menangis berhari-hari, bermalam-malam. Sama, TIDAK LULUS. Keinginanku bulat tidak ingin kuliah tahun itu. Gap year kurasa akan menjadi pelarianku untuk menjaga nama baik dibanding kuliah di jurusan lain.
Ibuku, berkali-kali membujuk untuk kuliah di PTS tapi katanya lagi tidak bisa FK, terlalu mahal. Aku mengerti, aku memang bukan anak pejabat yang bergelimang harta. Aku hanya harus mengandalkan otakku untuk kuliah FK tahun depan. Itu saja. Tapi Ibuku, selalu saja membujukku untuk terus memiliki cerita. Tahu apa yang dia bilang?
"Ibu itu pikirnya nanti kalau Indah nda mau kuliah tahun ini, kalo kumpul sama teman.. masa temannya sudah cerita kuliah, Indah mau cerita apa? Cerita Bantal sama kasur yang tidak bisa akur?,"
"Ibu juga bukanji suruh Indah kuliah untuk nanti dapat kerja bagus. Karena kalau kerja itu soal rejekiji nak. Pokoknya, Indah kuliah untuk kumpulkan cerita, pengalaman, untuk nanti diceritakan ke anak-anaknya, seperti Ibu tohh. Karena beda pasti pola pikir seorang Ibu yang berpendidikan dan tidak Nak,"
"Nak, Ibu tidak pernahji mau Indah jadi dokter, jadi hakim, atau jadi apapun itu. Biasa-biasa saja. Tidak mauji Ibu anak yang besar namanya di dunia, kalaupun memang besar namanya nanti Indah insyaAllah, yahh itu bonus usahanya-mi Indah. Terlepas dari itu, Ibu maunya Indah jadi jembatannya Ibu ke surga. kita ketemu lagi disurga." Kata Ibuku, benar-benar membuat air mataku semakin menganak-sungai.
Dan sebagai jawabanku, hanya diam disertai tangis, menyesali kesombongan serta ke-aku-an yang tidak bisa kuleburkan dalam pendewasaan diri. Ah, benar-benar 'sombong' bisa menjatuhkan seseorang ke jurang paling dalam. Tak terbilang berapa kali kudebat Ibu karena kesombonganku.
Besoknya, kudapati diriku untuk sepakat kuliah, dimanapun dan dengan jurusan apapun itu. Akhirnya, aku kuliah melalui jalur paling akhir yang kusebut sebagai jalur dengan sisa jurusan yang belum terpenuhi kuoatanya, kulihat tidak lagi murung bertengger di wajah Ibuku karena anaknya akhirnya resmi jadi mahasiswi. yey!!
Ibuku memang luar biasa, penuh kejutan dalam mendewasakan gadisnya yang tidak lagi kecil ini. Intinya, seberapa hebat pun diri kita selama sombong masih merajai hati.. maka sia-sialah segala yang kita punya. Tidak ada apa-apanya. Pun, pengakuan dari orang lain terhadap kehebatan diri hanyalah apa yang patut kita kembalikan ke yang MahaSegalanya. Kesombongan hanya milik Iblis dan teman-temannya. Jadi, apa yang patut kita banggakan?
Meminjam kalimat Dian Sastrowardoyo "Entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi karena ia akan menjadi ibu", kusematkan dalam baris paling akhir tulisanku ini untuk Ibuku, Diriku, dan seluruh perempuan-perempuan di muka bumi ini bahwa kitalah rahum peradaban. Sekiranya kita harus sepakat bahwa perempuan -siapapun itu, harus memegang dua prinsip. Malu dan takut. Malu apabila tidak cerdas, malu apabila tertinggal, juga malu apabila mencederai kehormatan keluarganya. Dan, takut apabila gagal dalam menjalankan misi menjadi rahim peradaban, serta takut apabila melanggar perjanjiannya dengan Tuhannya.
Menutup tulisanku ini, kutanyakan pada diriku, dan kepada kita semua,


Tidak ada komentar: