Intervensi Covid 19 terhadap Pola Tidur(ku)

April 16, 2020
Apa yang paling berubah selama Wabah Covid 19 ?
Selain pola pikir yang bersemayam di raga(ku), jam terbang(ku) yang tidak lagi lepas, pola tidur(ku) adalah yang paling banyak membuat malam(ku) menjadi terasa saaangaaaaaat lebih panjang. Bagaimana tidak?, kita dipaksa merumahkan segala aktivitas. Berkutat dengan apapun yang diharap mampu membuat kita menjadi seseorang yang rumahan. Dan gawai menjadi solusi utama untuk mengusir segala kebosanan, melebur segala kepenatan, dan untuk sementara ini.. kita harus hidup dan menghidupi dunia yang maya untuk membangun solidaritas yang semoga tidak palsu, tetap nyata meski terpisah ruang.

Terhitung sejak 18 maret (kalau aku tidak salah ingat), Kampus Peradaban akhirnya menegaskan putusannya terkait penanggulangan Corona Virus Disease 19, demi memutus matarantai penyebarannya. Teman-teman se-almamaterku mungkin bahagia, tapi maafkan aku teman-teman, aku sedih sekali sebenarnya. Selain karena kuliah (via) daring, ini artinya kalian akan pulang kampung.. sedangkan aku tidak punya kampung untuk kutempati berpulang, meski Mama-Papaku punya. Tapi itu kampung mereka, sebab disana mereka punya kenangannya sendiri, sementara kenanganku disana hanya sekadar berlebaran,  atau berlibur dari penat hiruk-pikuk Ibukota, sesekali karena ada keluarga menikah. Tapi untukku yang lahir, besar, hidup, sekolah, tinggal dan sudah hampir 21 tahun menjadi warga Makassar, tidak ada tempat untuk berpulang selain Makassar. (Mungkin bila suatu hari nanti aku menikah dengan seseorang yang bukan Makassarnese, kampungnya pun akan kutempati berpulang. Yuk aminkan, biar hidupku tidak di Makassar terus hehe. Atau, kalau aku jadi seseorang yang merantau meski pasanganku Makassarnese, maka Makassar akan selalu kami rindukan untuk berpulang).

Selain karena teman-temanku akan pulang kampung, aku sedih sekali karena artinya aku akan jadi anak rumahan lagi. Di rumah, aku kurang mampu bersosialisasi terhadap sekitar.. lebih tepatnya aku malu-malu bergaul. Sehingga kadang, tetangga dekat rumahku tidak tahu anak siapa aku ini. Sering dianggap pendatang, kecuali untuk mereka yang memang sudah mengenalku sejak kecil. Dulu, saat TPA dekat rumah masih hangat-hangatnya, sabtu-ahad adalah hari yang kunanti untuk bertemu adik-adikku, sayangnya.. TPA itu harus vakum dan membuat pola sosialisasiku ikut berhenti. Doakan biar setelah Covid 19 berlalu, TPA dekat rumahku bisa kembali disejahterakan yaa hehe.

Dengan berat hati, 23 maret aku memutuskan untuk pulang ke rumah, setelah barangkali aku menjadi salah satu orang terakhir dikelasku yang tinggal di samata. Entahlah, berat sekali rasanya untuk meninggalkan asramaku di Kampus. Tapi demi menghemat uang dan mematuhi aturan kampus, akhirnya aku memilih pulang ke rumah dan menjadi anak rumahan. Berlangsung sepekan, jam tidurku masih baik-baik saja. Baaiiik sekali. Aku tidur sebelum jam 10 malam, paling lambat jam 11. Bangun pun paling lambat setengah enam. Masih normal.

Tiba saat tamu bulananku menyapa, mungkin karena tidak ada tanggung jawab yang mengharuskanku bangun subuh... aku mulai menerapkan pola tidur yang tidak baik. Seharian aku bisa saja tidur (baru bangun kalau ditelfon untuk kuliah), dan semalaman aku bisa saja terjaga. Bahkan aku bisa saja tidak tidur seharian. Entahlah, pola seperti ini sepertinya sudah terbentuk menjadi kebiasaan buatku saat datang bulan. Semakin malam, aku semakin merasa cemerlang untuk menghidupi kehidupanku, entah menulis, kadang mendesain, sesekali cuma bengong mengatur masa depanku. Ahh hancur.

Tetibaa.. pengumuman keputusan Kementrian Agama bahwa kuliah (via) daring diberlakukan selama satu semester untuk PTKIN se-Indonesia membuatku harus berpikir keras tentang pola tidur. Bukan apanya, saat merasa aku tidak punya tanggung jawab apapun, semisal untuk bangun subuh karena salat ataupun bangun pagi untuk kuliah, membuatku semena-mena memanfaatkan waktu luang. Dan sekarang... KULIAH ONLEN DIPERPANJANG. Ditambah aku yang baru saja selesai masa mens dan tidak ada tanggungjawab untuk berbenah di pagi hari karena kuliah, tentu akan semakin membuat pola aktivitasku hancur!, utamanya pola tidurku.

Sehari setelah period, aku baru bisa tidur sekitar jam 2 malam setelah kupaksa. Subuhku hampir kebablasan.  Dan hal itu berlangsung sampai 8 April. Pola tidurku masih kacau, insomnia setiap hari. Memasuki hampir pekan kedua, sekitar 10 April, aku berfikir bahwa aku harus berbenah. Aku menyetop segala aktivitas gawai sebelum jam 12 malam. Aku harus tidur sebelum itu. Tapi, ada hal lain yang lebih mengganggu. Aku mudah saja tidur sebelum jam 12 malam, paling cepat bahkan sebelum Isya. Tetapi rasa tanggung jawab karena belum salat Isya membuatku tanpa sadar terbangun tengah malam. Besoknya, aku mengatur agar tidur setelah Isya saja, tetapi tetap terbangun tengah malam, sampai menjadi kebiasaanku bahkan pada saat aku menulis ini, ya karena terbangun. Aku bisa saja tidur cepat, tapi seperti ada alarm bawah sadar yang akan membangunkanku sebelum pukul 1 malam.

Maka perlu rasanya kuikat dalam tulisan, bahwa Covid 19 mengubah pola tidurku dengan tidak sangat bijak. Jika kuliah biasa, aku boleh saja begadang. Tapi paling lambat adalah pukul 12, sesekali kalau tugas berlebih, lewat sedikit. Bangun pun serasa ada tanggung jawab untuk bangun pagi,  meski sesekali subuhku (masih juga) kebablasan, apalagi kalau ada seseorang yang kuharap bisa membangunkanku, biasanya kalau ada Muli -karibku di asrama, aku yakin dia akan menjadi pembangun yang baik buatku. Maka, hilang sudah kewajiban pada diriku sendiri untuk mengurusi diri sendiri. Kalau libur panjang pun, pola tidurku boleh saja berubah.. karena ada Ibu yang akan menjadi pembangun yang baik untukku, tetapi tidak separah ini.
Intervensi Covid 19 terhadap  Pola Tidur(ku) adalah membuatku merasa tidak punya beban terkait aktivitasku selama #dirumahaja. Aku merasa bahwa kapanpun bisa, bahkan meski jadwal tidurku berputar 180 derajat. 

Saat ini, barangkali dengan hadirnya Covid 19.. sudah membentuk pola pikir baru di kepalaku. Bahwa aku tidak berkewajiban bangun pagi dan terjaga selama seharian. Maka seolah menggenapkan hal tersebut, malam selalu menjadi lebih damai buatku melakukan apapun, termasuk mengikat pikiranku dalam tulisan. Maka tolong!, untuk siapapun yang membaca ini, bagi tahu aku.. tips dan trik untuk menormalkan kembali pola tidur yang direnggut wabah. Aku tidak ingin terjerat dalam lingkaran insomnia dan membuatku menjadi burung hantu meskipun produktif. Bagaimanapun, siang adalah waktu paling nyaman untuk melakukan segala aktivitas. Aku hanya tidak ingin lebih jauh lagi diintervensi oleh Covid 19 terkait jadwal tidurku. Cukup jadwal dan sistem kuliahku saja. Aku ingin hidupku normal, tidurku normal. Tolong!

4 komentar:

  1. Tips dan trik ku, tidak mempan buatmu

    BalasHapus
  2. Tipsku dan trikku, kembalikan kebiasaanmu yg dulu yg katanya tidurnya masih normal, ala bisa karena biasa kok, tidurmu saja yang ngak normal terbiasa karena keseringan, jadi kembalikan saja pola tidurmu yang dulu agar supaya terbiasa kembali :)

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.