Kebijakan Individual Kita terkait Pandemi Covid 19
Covid 19 akhirnya berhasil menginvansi berbagi Negara di dunia. Kewalahan dan kelelahan atas 1.846.680 kasus terpapar di seluruh dunia, dilansir dari data yang dikumpulkan oleh John Hopkins University tentunya sangat menggusarkan dunia. Artinya, lebih dari 1,8 juta jiwa orang yang terinfeksi, dan tak terbilang kemungkinan akan meningkatnya jumlah kasus ini terus menerus, entah sampai kapan. Boleh jadi, pelarangan berkunjung ke daerah - daerah lain akan terus diberlakukan selama pandemi ini masih belum bisa dikendalikan.
Perlu digarisbawahi bahwa dalam beberapa literatur terkait pandemi, flu Spanyol atau Influenza kategori 5 pun pernah menjadi yang begitu mematikan. Ah, padahal sekarang, kalau terserang influenza, paling dibilangnya terlalu banyak minum es, hujan-hujanan, atau apalah. Padahal, seabad lalu.. tidak ada negara yang luput dari serangannya. Bahkan, seorang virologis Amerika Serikat, Jeffery Taubenberger menyebut flu Spanyol ini sebagai "The Mother of All pandemics" lantaran persentase pembunuhannya mencapai 2-20% penderita yang terinfeksi. Barangkali, dalam seabad kedepan juga, Covid 19 pun akan dicatat sebagai sejarah pandemi mematikan dunia, yang barangkali juga ketika pandemi ini berakhir dan bisa dikendalikan, maka akan sama nasibnya seperti si flu Spanyol ini. Barangkali ya, ini hanya asumsi pribadi penulis.
Dikategorikan sebagai Pandemi oleh World Health Organization (WHO) pada maret kemarin, Pemerintah Indonesia pun memutuskan untuk menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dimana akan dilakukan pembatasan kegiatan tertentu penduduk dalam suatu wilayah yang diduga terinfeksi penyakit atau terkontaminasi untuk mencegah kemungkinan penyebaran penyakit tersebut. Meskipun tidak di Karantina Wilayah sebagaimana yang diterapkan Pemerintah Wuhan, PSBB ini paling sedikit meliputi, 1) Peliburan sekolah dan tempat kerja, 2) Pembatasan kegiatan keagamaan, dan/atau 3) Pembatasan Kegiatan di Tempat atau Kegiatan Umum. Hal ini merujuk pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam Rangka Percepatan Penanganan Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) untuk mengantisipasi lonjakan jumlah pasien.
Nah, sudah jelas terkait kebijakan pemerintah dalam mengatasi dan menanggulangi Pandemi Covid 19 ini di Negara kita, Indonesia. Kemudian yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, sudah seberapa bijak kita secara individu dalam menyikapi Covid 19 ini? Sudahkah kita benar-benar #dirumahaja untuk memutus si mata rantai mutan ganas yang satu ini? Atau kita malah menganggapnya enteng dan masih saja kesana-kemari untuk mengejar kepuasan diri sendiri? Semoga tidak yaa. Dengan #dirumahaja, kita sudah bisa memberi manfaat bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk dunia. Dan bagaimanapun gerahnya, bosannya, dan menjengkelkannya kita untuk terus-terus #dirumahaja, semoga kita tetap mampu memandang Covid 19 ini dalam kacamata positif dan senantiasa menjemput hal-hal baik.
![]() |
| Semoga kedatangan Covid 19, secara individu kita juga tidak menegaskan ketertinggalan selama #dirumahaja. |
Selain ketertinggalan kita dalam bidang pendidikan yang ditegaskan dengan kehadiran Corona ini, semoga kita secara individu juga tidak ikut-ikutan menegaskan ketertinggalan kita. Jangan sampai, hari-hari yang kita sebut sebagai libur ini juga meliburkan segenap semangat kita untuk menyejahterakan pikiran kita. Turut memenjarakannya bersama dengan tubuh kita yang tidak bisa kemana-mana. Meminjam kalimat senior saya di UKM -Kak Ailah, yang selalu saya gembor-gemborkan kalimatnya di Story Instagram, "wabah boleh datang dengan segala kepenatannya, tetapi ritme intelektual harus terus berjalan". Tentulah kita sebagai individu harus bijak tidak hanya sebatas menuruti anjuran pemerintah untuk #dirumahaja, sedangkan untuk diri sendiri kita tidak berbuat apa-apa. Lagi dan lagi, jangan sampai setelah pandemi berakhir pertanyaan yang bisa kita jawab hanyalah seputar berapa banyak tiktok yang sudah kita buat, berapa banyak template kuis yang sudah kita isi, berapa banyak quiz 'saya pasang foto anda jika benar' yang bisa kita jawab, atau bahkan berapa banyak foto orang yang sudah kita unggah lantaran jawabannya benar menjawab kuis kita.
Kita selalu bercita-cita untuk meningkatkan kualitas hidup kita, tetapi untuk meningkatkan kapasitas diri saja kita bahkan masih enggan-engganan, atau bahkan belum bercita-cita sama sekali?. Maka, disinilah waktu yang paling tepat untuk memaksimalkan semuanya. Disaat rasa bosan benar-benar menggunung dan tidak tahu harus melakukan apa, maka hal yang bisa kita lakukan adalah menggali potensi apa yang kita punya. Kalau sudah mencoba ini lantas tidak cocok, ganti. Sudah mencoba itu, lantas tidak bisa, coba terus. Pun, dengan waktu luang dan kesehatan yang diberikan banyak sekaaaaliiii untuk diri sendiri ini bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan kemampuan yang kita punya. Ada banyak sekali jalan. Ini hanya terkait pilihan kita, kebijakan individual apa yang kita terapkan dalam memerdekakan diri sendiri.
Intinya, semoga dengan rasa kalah produktif kita melihat yang lain bercahaya dan meradiasikannya, membuat perasaan 'ketinggalan' hadir dan mengendap dibenak untuk kemudian menjadi sesuatu yang memicu produktivitas selama #dirumahaja. Tidak harus menelurkan karya. Indikator produktif tidak sesempit itu. Boleh jadi, berselancar di internet untuk mengayakan wawasanmu adalah pilihan produktifmu, atau mengasah skillmu yang kamu kubur saat disibukkan kegiatan lain sebelum punya waktu seluang ini, atau olahraga secara teratur adalah hal yang tidak sempat kamu fikirkan karena merasa tidak pernah punya waktu luang. Apapun itu, rengkuh baik-baik kesempatan waktu luang ini. Bangun produktivitas versimu sendiri. Setelah pandemi ini berakhir, ada sesuatu lain yang berkembang dari diri kita, bukan hanya berat badan. Sekali lagi, mari buka mata selebar-lebarnya bahwa #dirumahaja tidak semenyedihkan dan semembosankan itu.


Hiduplah jiwa literasi
BalasHapusehehe makasih sudah mampir kakaa Khaidir :)
Hapuskeren. jd pngen baca lagi.
BalasHapusWah semoga sampai yaa pesannya ehhe
Hapusmari kita tunggu karya tulisan memukau beliau
BalasHapusehehe terima kasih kak
Hapus