Baca-Tulis adalah Ikhtiar dalam Membangun Peradaban
Sebenarnya di lubuk hatiku yang paling dalam, aku ingin menulis. Mengabadikan salah satu karyaku, kisahku, atau bahkan buah pikirku dalam bentuk buku. Agar dinikmati banyak orang, menuju keabadian. Ah, dulu aku sepakat sekali dengan kalimat Pram itu, bahwa menulis adalah upaya menuju kebadian. Tapi semakin dewasa, rasanya egois sekali apabila tulisan hanya dipersembahkan untuk eksistensi diri semata, mengejar kebergelimangan diri selepas kematian menjemput.
Ah duhai diri, apa menulis benar sependek itu maknanya?
Tentu saja tidak. Sebab lewat sebuah tulisan, tali kebermanfaatan bisa dijaga keberadaannya. Luar biasanya lagi, peradaban bisa dikenal lewat tulisan-tulisan yang telah ditinggalkan. Karenanya, tulisan adalah wujud nyata atas eksistensi peradaban, bukan hanya eksistensi diri semata. Keabadian diri lewat menulis hanyalah bonus, dan yang harus diperjuangkan dari 'kesenangan menulis' adalah bagaimana peradaban 'baru' sedang dibangun atas tulisan-tulisan yang sedang berusaha diselesaikan. Dan siapapun jelas sudah paham, bahwa sebelum tulisan digoreskan, memperluas referensi sebelumnya adalah kunci, dengan membaca, misalnya.
Entah kapan aku mulai mencintai dunia baca-membaca, yang jelas kata Ibuk.. aku sudah bisa mengeja kata demi kata sejak usia empat tahun. Hal paling sering yang dilakukan Ibuk adalah melalui iklan di TV. Untuk menuntas rasa ingin tahu Ibuk akan ke-bisa-anku membaca, maka aku akan ditantang untuk mengeja iklan-iklan yang berseliweran di TV. Pada kesempatan lain, Ibu akan memastikan aku membaca poster-poster di jalanan, mencoba bersahabat lalu dia akan pura-pura salah baca untuk memastikan bahwa aku sudah membacanya dengan benar. Atau pada makanan atau benda yang dibelikannya untukku, akan disuruh baca dulu baru boleh dinikmati. Hal paling lucu adalah kalau aku disuruh mengeja sesuatu yang berbahasa Inggris, kusebut satu-satu hurufnya. Sun-li-ge-ha-te, sunlight.
Ah, harus kamu tahu bahwa Ibuku pun gemar membaca sedari kecil. Sayangnya, kebiasaan membaca Ibuku tidak diiringi kemauan kuat untuk memiliki buku-buku, dia lebih berupaya keras untuk meminjam. Dan pola itu yang berlanjut dalam mendidikku. Aku tidak diperbolehkan membeli buku-buku bacaan. Bukan tidak boleh sih, selalu dia bilang bahwa lebih baik uangnya dibelikan yang lain. Sayang jika harus dibelikan buku untuk sekali baca. Pola ini pun berlanjut dalam keseharianku. Aku hanya membaca kisah-kisah di buku pelajaran, sesekali meminjam buku dan majalah milik teman-temanku saat bertandang kerumahnya. Lucunya, dunia internet selalu lebih menarik buatku, uang jajanku lebih kupilih habis di warung internet untuk bermain game online dibanding membeli buku yang bila kuingat sekarang, menyesal sekali rasanya karena uangku habis untuk bermain game online di warnet.
Semakin dewasa, aku semakin gemar membaca. Tapi hanya novel-novel. Dan setelah berkian buku terlewat, aku baru sadar bahwa aku hanya akrab dengannya secara fisik. Membacanya hanya sebatas lalu. Yang jelas aku tahu jalan ceritanya, begitu pikirku selalu. Hanya melegakan nafsu haus akan bacaan dan buku-buku.
Suatu hari, ketika aku ingin mengulas novel-novel yang sudah kubaca, ternyata aku tidak pernah benar-benar tahu sudah berapa banyak buku yang sudah kukhatamkan. Pertanyaan-pertanyaan seperti buku ini ditulis oleh siapa, judulnya apa, dan pertanyaan lain pun sampai kepadaku. Hal ini semakin menyadarkanku bahwa selama ini aku belum benar-benar membaca. Aku hanya mengkhatamkan cerita, romansa, kehidupan orang lain, perjuangan, ataupun biografi yang bahkan maknanya sendiri entah sampai atau tidak. Aku pun semakin merasa bahwa aku membaca hanya untuk memamerkan bahwa buku ini sudah kubaca, buku itu sudah kubaca, ah kayaknya pernah kubaca, dan kalimat lainnya yang membuatku mengklaim diriku bahwa aku memang gemar membaca, namun nihil.
Ah, membaca memang bukan sebatas mengeja kalimat-kalimat yang terpampang di halaman. Bukan sekedar menamatkan satu buku untuk disebut sebagai orang yang banyak membaca. Membaca adalah aktivitas melintasi ruang-ruang ilmu. Menapaki lautan pengetahuan. Dan meraup sebanyak-banyak kebijaksanaan. Bukankah perintah yang paling pertama turun pun adalah Iqra', bacalah, yang apabila ditafsir dalam makna kontekstual, maka kita diharuskan untuk bergumul dengan cakrawala intelektualitas.
Namun nyatanya, untuk menyambung estafet peradaban dunia... membaca saja tidak cukup. Perlu ada kepekaan untuk terus menggali apa yang sudah dibaca dengan aktivitas menulis. Dan sebelum menulis, perlu ada perenungan agar lahir sebuah tulisan. Sebab, pembaca yang paling baik adalah pembaca yang mampu mendialogkan gagasannya setelah bermukim dalam kegelisahannya atas apa-apa yang sudah dibacanya. Artinya, terjadi proses membaca-merenung-menulis, sebagaimana kata Buya Syafi'i.
Lalu, mengapa harus menulis? Mengapa harus mendialogkan gagasan dalam bentuk tulisan? Tentunya agar radius kebermanfaatannya tidak sebatas pada diri sendiri. Tidak hanya mengendap pada egoisme intelektualitas secara personal. Lahirnya satu gagasan baru dalam suatu lingkaran, menunjukan adanya sebuah kemajuan, hingga nantinya akan semakin banyak yang menyerapnya dalam aksi-aksi perbaikan.
Ah, barangkali, itulah sebabnya Ibuk menanamkan kebiasaan membaca padaku sejak dini. Agar nanti pada masa gadis(ku), (aku) akan sibuk menimba pengetahuan untuk menjadi bekalku dalam mempertanggungjawabkan status perempuanku sebagai rahim peradaban. Sebab bagi perempuan, barangkali setelah menikah, aktivitas membaca akan tersingkir dengan kesibukan rumah tangga dan pekerjaan. Bisa jadi produktivitas baca-tulis sewaktu gadis pun akan ditinggalkan begitu memasuki gerbang pernikahan apabila baca-tulis tidak terserap baik dalam tiap hembus nafas. Paling tidak, jika tidak bisa dituangkan langsung dalam tulisan, membaca adalah hal utama yang harus dijaga ritmenya.
Sebab rasanya, lingkaran teman dekatku tidak begitu menggemari baca-tulis untuk dijadikan seiring dengan hembus nafas ataupun denyut nadi. Padahal, sebagai seorang perempuan harusnya kita lebih sadar akan tanggungjawab harfiah sebagai rahim peradaban. Artinya, bergumul dengan Ilmu Pengetahuan adalah kewajiban kita dalam menjadi madrasah pertama. Dan membaca, adalah jalan pintas dalam memaksimalkan peran sebagai perempuan. Juga, agar patriarki tidak lagi membudaya dan hawa-hawa lainnya diluar sana tidak lagi dikalahkan oleh kebodohannya dalam mengendalikan perasaannya.
Menutup catatan ini, semoga (catatan ini) menjadi pengingat di masa mendatang (buatku) untuk terus bergumul dengan baca-tulis dalam melanjutkan estafet peradaban. Sebab, nama yang abadi hanyalah bonus atas kesungguhan ikhtiar dalam membangun peradaban. Sekali lagi, baca-tulis adalah ikhtiar dalam membangun peradaban. Nama yang abadi hanyalah pemanisnya. Dan bergelut dengan Ilmu Pengetahuan adalah salah satu bentuk jihad kita sebagai Muslim-Muslimah. Allah mudahkan, InsyaAllah. Jadi, selamat berjihad lewat ilmu pengetahuan. Saat harta sudah mengikuti ilmu, lanjutkan jihad dengan harta :)
Semakin dewasa, aku semakin gemar membaca. Tapi hanya novel-novel. Dan setelah berkian buku terlewat, aku baru sadar bahwa aku hanya akrab dengannya secara fisik. Membacanya hanya sebatas lalu. Yang jelas aku tahu jalan ceritanya, begitu pikirku selalu. Hanya melegakan nafsu haus akan bacaan dan buku-buku.
Suatu hari, ketika aku ingin mengulas novel-novel yang sudah kubaca, ternyata aku tidak pernah benar-benar tahu sudah berapa banyak buku yang sudah kukhatamkan. Pertanyaan-pertanyaan seperti buku ini ditulis oleh siapa, judulnya apa, dan pertanyaan lain pun sampai kepadaku. Hal ini semakin menyadarkanku bahwa selama ini aku belum benar-benar membaca. Aku hanya mengkhatamkan cerita, romansa, kehidupan orang lain, perjuangan, ataupun biografi yang bahkan maknanya sendiri entah sampai atau tidak. Aku pun semakin merasa bahwa aku membaca hanya untuk memamerkan bahwa buku ini sudah kubaca, buku itu sudah kubaca, ah kayaknya pernah kubaca, dan kalimat lainnya yang membuatku mengklaim diriku bahwa aku memang gemar membaca, namun nihil.
Ah, membaca memang bukan sebatas mengeja kalimat-kalimat yang terpampang di halaman. Bukan sekedar menamatkan satu buku untuk disebut sebagai orang yang banyak membaca. Membaca adalah aktivitas melintasi ruang-ruang ilmu. Menapaki lautan pengetahuan. Dan meraup sebanyak-banyak kebijaksanaan. Bukankah perintah yang paling pertama turun pun adalah Iqra', bacalah, yang apabila ditafsir dalam makna kontekstual, maka kita diharuskan untuk bergumul dengan cakrawala intelektualitas.
Namun nyatanya, untuk menyambung estafet peradaban dunia... membaca saja tidak cukup. Perlu ada kepekaan untuk terus menggali apa yang sudah dibaca dengan aktivitas menulis. Dan sebelum menulis, perlu ada perenungan agar lahir sebuah tulisan. Sebab, pembaca yang paling baik adalah pembaca yang mampu mendialogkan gagasannya setelah bermukim dalam kegelisahannya atas apa-apa yang sudah dibacanya. Artinya, terjadi proses membaca-merenung-menulis, sebagaimana kata Buya Syafi'i.
Lalu, mengapa harus menulis? Mengapa harus mendialogkan gagasan dalam bentuk tulisan? Tentunya agar radius kebermanfaatannya tidak sebatas pada diri sendiri. Tidak hanya mengendap pada egoisme intelektualitas secara personal. Lahirnya satu gagasan baru dalam suatu lingkaran, menunjukan adanya sebuah kemajuan, hingga nantinya akan semakin banyak yang menyerapnya dalam aksi-aksi perbaikan.
| Memilih buku bacaan dulu sebelum memilih pasangan *eh? |
Sebab rasanya, lingkaran teman dekatku tidak begitu menggemari baca-tulis untuk dijadikan seiring dengan hembus nafas ataupun denyut nadi. Padahal, sebagai seorang perempuan harusnya kita lebih sadar akan tanggungjawab harfiah sebagai rahim peradaban. Artinya, bergumul dengan Ilmu Pengetahuan adalah kewajiban kita dalam menjadi madrasah pertama. Dan membaca, adalah jalan pintas dalam memaksimalkan peran sebagai perempuan. Juga, agar patriarki tidak lagi membudaya dan hawa-hawa lainnya diluar sana tidak lagi dikalahkan oleh kebodohannya dalam mengendalikan perasaannya.
Menutup catatan ini, semoga (catatan ini) menjadi pengingat di masa mendatang (buatku) untuk terus bergumul dengan baca-tulis dalam melanjutkan estafet peradaban. Sebab, nama yang abadi hanyalah bonus atas kesungguhan ikhtiar dalam membangun peradaban. Sekali lagi, baca-tulis adalah ikhtiar dalam membangun peradaban. Nama yang abadi hanyalah pemanisnya. Dan bergelut dengan Ilmu Pengetahuan adalah salah satu bentuk jihad kita sebagai Muslim-Muslimah. Allah mudahkan, InsyaAllah. Jadi, selamat berjihad lewat ilmu pengetahuan. Saat harta sudah mengikuti ilmu, lanjutkan jihad dengan harta :)
Diselesaikan di Makassar, 30 Zulkaidah 1441 H/ 20 Juli 2020 M.

Tidak ada komentar: