Genggam yang Kulepas

Juli 15, 2020
Aku kira... kau akan selamanya senang membersamai sekelumit rumitku. Nyatanya, menyerah juga ya, kamu. Jadi... sebagai penutup janji yang belum sempat kamu tunangkan, dan atas sehimpun kenang yang belum mampu kuhilangkan -barangkali, genggammu kulepas. Bebas.

Barangkali, memang sejatinya kita selalu dilingkupi risau dalam keadaan bagaimanapun. Saat kecil begitu gelisah mendamba dewasa, lalu saat dewasa nyatanya khawatir bertebaran dalam mendekap cahaya saat menjalani terowongan kehidupan yang nampaknya masih jauh dari ujung. Begitupun aku dalam memahamimu. Akan selalu kutemukan risau, saat kudapati genggammu yang melonggar.

Sungguh, kau tidak perlu khawatir. Aku sudah terbiasa mandiri dengan hidupku. Kesana-kemari tanpa ada yang mengantar. Perut kosong pun sudah menjadi tanggung jawabku. Meski Ibuk tidak berhenti-berhentinya menelfon perihal aktivitasku. Tapi tetap saja, kujaminkan semuanya akan tetap dalam kendaliku. Kecuali perasaan barangkali.

Tentang diriku, tidak usah risau. Aku adalah pelindung hebat untuk diriku sendiri. Apapun yang terjadi, tolong!, berhenti bersikap seolah kau mampu membersamaiku dalam segala rumitku. Sebab, yang paling mengerti adalah aku.

Jadi kumohon, jangan pernah merasa bersalah atas genggammu yang kulepas. Sebab tanpa kau meminta sekalipun, tidak ada yang bisa mengendalikan rasa. Tak akan kubiarkan kebodohanku mendesakmu untuk membersamaiku.

Jadi, diantara beribu mil jarak yang memisahkan. Genggammu kulepas, bebas.
Source : Google

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.