Tamparan Zulhijjah
Senja tadi, Zulkaidah menutup harinya dengan sempurna. Indah sekali. Semburat sabit tipis selalu menjadi sesuatu yang didamba -bagi siapapun. Entah sabit tipis di wajahnya, atau sabit tipis di langit akhir bulan. Ah, pesona sabit tipis memang beragam, intinya ia dinanti.
Memasuki penghujung 1441 Hijriah ini, ada begitu beragam momentum yang berhasil dilalui. Tangis, pilu, haru, bahagia, ah... 355 hari Kamariah hampir berlalu. Ngegas sekali yah si waktu?. Tapi, terimakasih sudah bertahan, diri. Meski apa-apa yang (sudah) kita rencanakan belum menemukan muara, tetap saja, tidak ada yang sia-sia diantara kita. Tidak pernah ada percuma atas hal-hal yang sudah lalu. Lagi dan lagi, terimakasih sudah bersepakat untuk selalu mengecap 'kemajuan', meski ujung-ujungnya bosan juga.
Entah ini sudah kali keberapa aku sampai pada pertanyaan : kamu ingin apa? mau jadi apa? apa yang paling kamu sukai? Hobimu apa? apa hal yang tidak pernah bosan kamu lakukan? dan pertanyaan-pertanyaan serupa yang membuatku semakin yakin posisiku, bahwa AKU MASIH BELUM MENEMUKAN PASSIONKU; sesuatu yang amat teramat paling kuinginkan dalam hidup. Aku masih diambang pencarian menemukan diriku, sebab rasanya aku sudah mencoba semuanya.. menggeluti satu persatu bidang untuk menemukan yang paling kucinta.
![]() |
| Foto lama sebagai simbolisasi Kegalauan wqwq |
Saat Aliyah, aku menggeluti semua bidang. Aku lumayan dalam akademik, aku mahir debat, buat Karya Tulis aku bisa, saat Pidato pun aku tidak buruk-buruk amat, dan Sastra, aku merasa hidup dalam tulisan-tulisanku. Aku rasa, aku bisa semuanya meski tidak expert. Karena itu, kawan-kawanku menyebutku multitalent. Barangkali, yang tidak kubisai hanya bidang olahraga, juga menyanyi. Sebab, aku benci olahraga dan aku sadar bahwa aku buta nada saat bernyanyi. Aku akhirnya menyimpulkan, bahwa aku bisa menggeluti semua bidang itu tanpa harus menjadi ahli dalam salah satunya. Tapi semakin kesini, aku semakin sadar bahwa aku bukan Wirda Mansur yang punya privilege. Kalau dalam bukunya, Wirda mengatakan kurang lebih bahwa dia tidak ahli dalam apapun, dia bisa semuanya, dan begitulah kita seharusnya. Sayangnya, dia sudah terkenal sedari lahir sehingga menurutku, akan mudah baginya mengucapkan itu. Karena itu tadi, dia punya hak istimewa untuk menjadi panutan, terkenal sedari lahir. Meskipun aku yakin bahwa usahanya juga tidak main-main, tapi tetap saja.. di dibekali dengan privilege yang matang. Tidak denganku.
| Me on Debate Competition |
![]() |
| Mathematics Event, berdasarkan urutan nilai matematika tertinggi |
| Diatas Mimbar Dakwah wqwq (read pidato) |
| My LKTI Team |
| Lomba Ranking satu meski aku hanya Ranking dua |
Sayangnya, apa-apa yang dianggap sebagai potensi seharusnya diasah lebih baik agar menjadi tajam. Dan aku tidak melakukan itu atas potensi-potensiku.
Aku juga pernah (begitu ingin) menggeluti dunia kecantikan, bahasa gaulnya beauty content creator. Namun lambat laun, kusadari bahwa aku bahkan malu untuk disebut beauty vlogger oleh senior-senior yang kukenal. Pertanyaan mengapa aku malu pun menghantuiku yang membuatku memberhentikan niat untuk menggelutinya. Pelan-pelan, aku menutup halaman per-beauty-an di salah satu lembar hidupku. Aku memang suka make up, tetapi rasanya untuk menggelutinya... aku tidak yakin.
![]() |
| My firstime does a full-make-up (2016) |
Selanjutnya, aku pernah mencoba dunia Tari. Beberapa kegiatan pun membuatku mengambil keputusan untuk menjadi penari yang akan menyambut tamu. Diawali gerakan kaku di awal, aku akhirnya bisa menyesuaikan. Mencoba trips and tricks melenturkan badan agar aku mampu bertanggungjawab atas pilihan yang kuambil. Hasilnya, aku puas. Aku mampu terjun dengan waktu latihan hanya lima hari. Aku suka menari? jelas. Menyenangkan. Namun, aku rasa 'bisa menari' sudah cukup buatku.
![]() |
| I'm the pinky One |
Selanjutnya, aku pernah menggeluti dunia pers. Sejauh ini, pers adalah yang paling kusuka. Bertemu orang banyak, mengeksplor banyak hal, mewawancarai, bercengkrama, membawakan berita. Ahh, aku rasa pers adalah duniaku. Being a journalist is the funniest one. Aku rasa ini yang paling cocok dengan karakterku yang mudah bosan. Tapiii, beberapa hal membuatku harus undur diri dari pers. Aku (mulai) tidak percaya diri dengan semua yang kupunya, mulai dari aku sudah tidak percaya diri untuk mengunggah wajahku sesering dulu, ditambah aku merasa skill berbicara depan banyak orangku mulai tidak sebagus dulu. Ya, kepercayaan diriku menurun seiring bertambahnya waktu. Dan itu membuatku hengkang dari dunia reporter.
| How Happy I am before looking for news |
Dan saat ini, sebagai persembahan baktiku untuk Ibuk yang paling kucinta sejagad raya, kuhempas semua inginku untuk berada di depan layar kaca (read : news anchor). Karena Ibuku... ingin aku menjadi Peneliti (aamiin). That's why aku menggeluti dunia riset saat ini. Meski harus bersusah payah membangun cinta, mengubur (sedikit) ingin untuk menjadi pembaca berita, reporter ataupun jurnalis, aku akan berusaha. Ibuk benci sekali saat aku bilang mau jadi reporter. Apalagi waktu aku bilang mau jadi Beauty Content Creator. Didukung sih, tapi tidak sesenang kalimatnya saat mendengar keputusanku untuk menggeluti dunia riset yang artinya aku akan bergumul dengan cakrawala intelektualitas.
Ahh, memang benar. Dalam hidup, ada momentum yang lebih berharga dibanding mengedepankan ambisi dan cita-cita, yaitu memastikan bahwa mereka yang kita cinta, turut bahagia atas keputusan yang kita ambil. Jadi, mengapa tidak dicoba dulu? Cita-cita bisa direvisi, kok.
Yang menjadi tamparan paling pedih di Zulhijjah ini adalah, bahwa AKU MASIH BELUM MENEMUKAN PASSIONKU. Aku hanya mengikuti arus yang membawaku dan mencoba bertahan sekuat tenaga agar tidak sampai tenggelam. Juga, selama menjadi mahasiswa.. aku belum mampu menjadi mahasiswa ideal (mahasiswa ideal versiku : berprestasi kemana-mana, akademik bagus, dan seorang aktivis) sebagaimana inginku. Aku hanya sepertiga dari itu. Padahal, sebentar lagi status mahasiswa ku akan berakhir seiring dengan selesainya aku mengerjakan amanah akademikku. Doakan, ya?
Intinya, diantara manusia yang sudah berhasil menemukan passionnya. Entah kudengar prestasinya akhir-akhir ini, kulihat dia bergelut dengan passionnya, atau bahkan skripsinya sudah selesai. Aku masih stagnan dengan pertanyaan : Apa hal yang tidak pernah bosan kulakukan?
Terima Kasih Zulhijjah, sudah menamparku habis-habisan dengan kenyataan bahwa aku masih tidak bisa membaca hal apa yang paling kusukai. Tapi apapun itu, seberusaha mungkin riset akan menjadi salah satu tujuanku untuk mengembarai dunia, sebagaimana keinginan Ibuk. Doakan, ya? Aku masih sedang memupuk semangat untuk itu. Adapun jika di masa mendatang ternyata jalanku lain daripada yang kupilih, pastilah catatan ini menjadi pengingat bahwa aku pernah begitu dirundung gelisah dalam memilih jalan yang akan kulalui.
Jadi, adakah kamu ingin membantuku? Bisa kamu sematkan di kolom komentar. Bahkan meskipun jika itu hanya sebatas kalimat penyemangat. Terima Kasih.
1 Zulhijjah 1441 H
22 Juli 2020 M
Noted:
Foto-foto ini kusematkan bukan untuk berpamer ria, melainkan sebagai pengingat di masa ini dan masa mendatang bahwa aku pun pernah menggeluti banyak hal sebelum membersamai yang kucinta (menemukan passion).





Tidak ada komentar: