Bahagia selalu!, Ibu-Bapak!

Agustus 10, 2020

Hari ini bukan ulang tahun Ibuk ataupun Bapak, sebenarnya. Bukan pula hari Ibu atau Ayah Regional, nasional, ataupun Internasional. Hanya saja, entahlah.. aku merindukan momentum-momentum hangat bersama Ibu dan Papaku -yang dulu sering ((sekali)) kuupayakan. Entahlah, aku jadi mellow akhir-akhir ini. Barangkali, karena banyak sekali drama Korea yang kuselesaikan dan ceritanya tak jauh-jauh dari pemahaman bahwa "Setiap anak pasti berharga bagi orang tuanya". Tamparan ini sedikit membuatku sadar, setidak-tidaknya se-sampah apapun aku di masyarakat, aku tetaplah berharga bagi orang tuaku. Bagi papaku, bagi Ibuku. Dan tentu saja, mereka akan mengusahakan segala keterbaikan atasku. Atas hidupku, pendidikanku, cita-citaku, bahkan nanti jika saatnya cintaku menjemput, aku yakin mereka akan selalu mengusahakan yang terbaik, untukku.

Mungkin memang benar bahwa semakin dewasa, komunikasi antara anak dan orang tua memang tidak akan seintens waktu kecil. Bahkan saat anak mengklaim diri sebagai seseorang yang sudah dewasa, maka aktivitas menolak telepon-telepon orang tua sudah lumrah dan menjadi hal yang dianggap tidak penting lagi. Akupun begitu, rasa-rasanya semakin benci dengan keposesifan Ibuk juga bahkan papaku -meski jauh di Bandung. Komunikasiku sama Papa bahkan hanya berkisar tentang uang kuliah, uang jajan, minta restu, dan tidak lagi tentang hal-hal detail sebagaimana dulu kala aku meminta dibelikan ini-itu. Aku rasanya semakin ingin menyimpan semuanya sendirian, membenamkan diri dalam kedewasaan. Padahal, memiliki orang-orang yang bisa menjadi tempat bercerita adalah anugrah paling istimewa sebenarnya, sebab tidak semua punya hal-hal mewah itu.

Ah, orang tua memang akan mengupayakan apapun untuk kebahagiaan lahir batin anaknya. Sekalipan duri dalam genggamannya. Meski derita menderunya berkali-kali. Dan kita sebagai anak, hanya akan terus meminta, bahkan marah apabila tidak dikabulkan. Sebagaimana namanya, anak hanyalah tetap menjadi anak bagi orang tuanya, maka barangkali sikapnya terhadap orang tuanya pun akan selalu anak-anak. Bahkan amarah sekalipun masih sering dilampiaskan kepada orang tua. Sedang orang tua?

Saat aku masih kecil, aku masih merasa lebih dewasa dibanding sekarang. Aku ingat, aku selalu berupaya bersikap manis pada Ibuk maupun Bapak. Menyisihkan uang jajan untuk membeli hadiah, membuat kata-kata manis di atas surat, meng-SMS Bapak kata-kata khas anak kecil, atau bahkan memamerkan cerita-cerita yang kualami setiap harinya agar mereka mendengar sejauh apa prosesku dalam kehidupan. Ah, barangkali hanya orang tua yang akan sanggup berlama-lama mendengarmu bercerita tentang hidupmu. Sebab, tidakkah kita sadar seberapa berusaha orang tua membangun kedekatan dengan anaknya? Meski tidak semua cara yang dilakukan orang tua adalah sama, tapi percayalah. Kita tetap berharga bagi orang tua kita....

Sebagaimana aku, kamu pun pasti adalah anak yang berharga bagi orang tuamu.

Karena itu, Ibuk... Bapak. Terima Kasih atas kesempatan dan hangat dibesarkan dalam pelukmu. Meski menggengam duri atapun didera derita dan kau masih saja mengupayakan kebahagiaanku, I'm blessed for that bless. I Love you both, as always.

Bahagia selalu, Ibu-Bapak! <3

 Akankah aku begitu untuk anak-anakku, Papa, Ibuk?

Sumber Gambar : Google

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.