Safar~
Petang ini, aku dirundung galau yang barangkali akan membuat malamku tak berkesudahan. Pasalnya, aku ingin bertandang ke sekretariat di Pampang, salah satu daerah texas di Makassar. Namun tetiba saja, Ibuk melarangku keluar. Tidak biasanya, batinku. Mmm, aku akui.. beberapa pekan ini, aktivitasku memang tidak pernah tinggal di rumah barang 12 jam. Sekitar pukul 8 pagi, aktivitas akademik kuhadiri, sebutlah KKN, di daerah sekitaran GOR Sudiang. Tuntas KKN, aku berangkat menuju Pampang, dan baru akan pulang sekitaran pukul sebelas malam bahkan lewat. Baru saja kemarin, aku menginap di kosan teman lantaran beberapa aktivitas yang kiranya menyita waktu pulangku lebih larut, akibatnya aku tidak berani pulang pada jam-jam demikian. Hancurlah jadwal agenda harianku karenanya. Karena baru pulang selepas aktivitas akademik pada siang tadi, aku tidak boleh keluar pada sore dan malamnya. Harus betah dengan aktivitas di rumah. Tapi aku sadar, Ibu Negara sedang mengkhawatirkanku, karenanya beliau melarangku untuk malam ini, hanya malam ini. Jadilah demi melepas penat karena bosan berbasa-basi di ruang obrolan, aku akhirnya menulis ini.
Baiklah, sebelum menulis ini.. aku baru saja selesai membaca tulisan seniorku. Tak usahlah kusebut namanya, sebab substansinya adalah apa yang ditulisnya. Jadi tulisannya berkisah tentang perjalanan, dan aku merasa terhubung dengan tulisannya. Entah sejak kapan, aku mulai begitu menggemari bersafar. Bahasa modernnya, travelling. Yang kutahu, aku merasa hidup saat tidak bersama Ibuk. Bukan maksudku merasa mati jika ada Ibu di dekatku, umm.. hanya saja bila bersama Ibuk, aku selalu merasa anak-anak, bahkan meski sekadar makan, aku masih sering minta disuapi di usiaku yang tidak lagi kepala satu. Aku merasa bisa berdiri di atas kakiku sendiri apabila tidak dalam dekapan Ibuk. Barangkali, itulah sebabnya aku begitu mencintai bersafar. Sebab saat melakukan perjalanan, yang bisa kita andalkan hanyalah diri sendiri.
Selang beberapa tahun berlalu, aku semakin gemar melakukan perjalanan. Dulu semasaku SMP, bila Ramadan tiba, aku akan mengusahakan kegiatan Pesantren Kilat di kampung kawan-kawan pondokku yang rumahnya siap jadi tempat kami bernaung. Hal itu rutin sampai aku selesai Aliyah. Dan dari situ, kegilaanku akan perjalanan semakin menguat, yang kiranya semakin membuat Ibuk harus meningkatkan kadar khawatirnya apabila izinku tidak lagi sebatas Makassar. Pelan-pelan, Ibuk memaklumiku dan hobiku, meski barangkali jantungnya seperti hendak loncat apabila tidak mendapati kabarku dalam sehari lantaran safarku sedang di daerah yang minim jaringan 3G maupun 4G. Meski pikirku dengan aku bersafar aku dapat meringankan beban Ibuk, nyatanya tidak, malah sebaliknya. Padahal, bersafar menjadi salah satu hal yang ingin kubuktikan dalam menepis argumen inferior orang-orang terhadapku, bahwa tunggal tidak selamanya manja dan tidak bisa mengandalkan diri sendiri.
Hal yang paling kusenangi dalam safar adalah bahwa aku bisa menemukan diriku sebabnya. Menjadi asing di belantara manusia, menjadi sendiri sementara, dan tentunya.. kedua hal itu harus menjadi karib untuk mengecap indahnya bersafar. Bagiku perjalanan adalah kesempatan untuk menikmati ruang-ruang belajar yang tidak kita kecap di bangku sekolah. Bertemu orang baru lalu menerka karakternya, menyerap banyak hikmah, dan tentunya menantang diri dengan segala hal yang bersifat baru. Kata orang-orang, kalau ingin berjalan cepat, berjalanlah sendiri dan kalau ingin berjalan jauh, berjalanlah bersama.
Aku ingat sekali saat dalam perjalanan pesawatku terakhir kali pada 2016 lalu, aku hampir ketinggalan pesawat lantaran kesendirianku di bandara yang tidak memerhatikan jadwal. Kala itu, karena penerbangan pesawatku didelay, dengan muka masamku, aku akhirnya memilih duduk sendirian, sembari menikmati ponsel di Bandara Soekarno-Hatta. Sebab, tidak ada siapa-siapa yang bisa kuajak bicara, semua orang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Aku yakin, dalam keadaan menunggu, tak seorang pun bisa tenang menghadapinya. Setelah berulang kali memastikan bahwa aku tak mendengar jadwal pesawatku padahal sudah waktunya, aku akhirnya memberanikan diri bertanya ke pihak penerbanganku kala itu. Dan ternyata..., aku adalah penumpang terakhir yang ditunggu sebelum pesawatnya mengudara. Aku langsung bertanya-tanya pada diriku? Apakah aku terlalu fokus sendirian sampai tidak mendengar nomor penerbanganku yang barangkali sudah berungkali disebut? Syukurlah pihak penerbangan pesawatku berkenan mengantarku secara pribadi, yaitu melalui kendaraan yang tidak kutahu namanya -seperti mobil kecil yang hanya berisi aku, dan 2 orang pegawai bandara lainnya. Mataku berkaca, syukurlah Bapak-bapak yang kutemani di kendaraan itu bisa memecahkan ketakutanku dan membuatku bercerita banyak hal, asal-usulku, sekolahku, aktivitasku, dan hal-hal lain yang kiranya sudah kulupa apa-apa saja itu. Ada satu pesan yang akan selalu kuingat sebagai nasihat berharga.., "kalau dek Indah jalan sendiri, harus lebih fokus lagi biar kejadian ini nggak keulang. Syukur kalau orang-orang baik yang adek temui, kalau bukan bagaimana? Semoga bisa jalan-jalan ke Makassar yaa dek Indah, doakan." Kalimatnya membuatku langsung terkonek dengan pesan Rasulullah tentang perempuan yang berpergian harus bersama mahramnya, barangkali salah satunya ya karena itu.
Oiya, maret nantii, aku akan Ke Malaysia. Lagi. InsyaAllah. Alhamdulillah, Allah hadiahkan buatku untuk mengecap dataran Melayu itu lagi. Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmus shaalihaat. Masih sendiri memang, doakan semoga perjalanan-perjalanan berikutnya sudah ada yang menemani. Uhuk uhuk wkwk. Gakdeng, canda. Intinya, lakukanlah perjalanan. Sebab dalam perjalanan akan kau temukan beragam hikmah. Saat tidak mampu direkam digital oleh sejarah, paling tidak jadi wahana edukasi bagi anak-cucu atas penaklukan jengkal di setiap bumi Allah.
Tulisan ini, ingin kuselesaikan tadi malam. Tapi lantaran ada agenda menyenangkan yang terlupa, yaitu welcoming peserta fully funded GIVE 2021, aku melupakan segala galau dan kesedihan. jadilah daripada tulisan ini lama mendengkur, kuselesaikan saja pagi ini sebelum aktivitas akademik -KKN- dimulai.
![]() |
| Sampai Jumpa lagi, Dataran Melayu! |
Makassar, 10 Rabiul Awal 1442 H.


Tidak ada komentar: