Safar yang Ditangguhkan~

Februari 26, 2021

Aku menyukai dan mengesalkan segala hal yang berbau penangguhan dalam satu waktu. Mungkin, lebih akrab ditelinga dengan kata tunda. Ya, kuakui.. aku 'suka' dan juga 'sebal' pada saat yang bersamaan. Barangkali, ada atmosfer keegoisan yang bermain disini. Bagaimana tidak? Aku menyukainya apabila ini menyangkut kesenanganku. Semisal menunda mandi pagi untuk memainkan gawai, menunda sholat agar bisa scrolling beranda medsos, menunda skripsi karena digelayuti bayangan gelap masa depan(?), menunda tidur malam agar dapat menulis ini, dan ada banyak sekali penundaan-penundaan tiada guna yang kubuat-buat untuk memanjakan kekanak-kanakanku dalam menggunakan waktu yang kupunya. TAPI AKU SUKA :(:(:(. Dan sebuah kesenangan buatku untuk memanjakannya. Sebuah bentuk self-love kah ini??


Di sisi lain, akan begitu menyebalkan sebuah penangguhan jika menyangkut sesuatu yang mengurangi kesenanganku. Apabila jadwal yang sudah kususun rapi harus ditangguhkan misalnya, juga tentang mimpi-mimpiku. Sebab, siapa yang tidak kesal apabila mendapati macet atas apa-apa yang diingininya? Membuat banyak perencanaan lainnya ikut tertunda. Belum lagi, jika perencanaannya sudah matang dan sudah tersebar dari satu mulut ke mulut lainnya. Ah, benar-benar mengesalkan.


Beberapa waktu lalu, saat Yayasan yang akan memberangkatkanku ke Malaysia meminta kami untuk rapat skala menengah.. aku sebenarnya sudah menduga bahwa kakiku yang kupikir bisa menapak Kuala Lumpur pada pertengahan maret ini akan ditangguhkan. Dan benar saja, rapat pemantapan kelengkapan berkas ini juga sekaligus rapat pemantapan keberangkatan. Satu per satu kami diminta memilih atas dua pilihan, pertama : memilih tetap diberangkatkan pada maret dengan konsekuensi  kondisi yang belum stabil ini. Atau, kedua : memilih menunda dengan harapan akan memberi persiapan yang jauh lebih matang serta kondisi yang lebih stabil. Dan entah atas dasar apa, aku memilih (bersama delapan kawan lain juga) untuk menunda. Hanya satu suara yang bertahan untuk tetap diberangkatkan maret. Dan dari sini, satu suara ini sudah kalah. Kualitas maupun kuantitasnya.


Aku sebenarnya aman-aman saja terkait penundaan ini, senang malah. Sebab artinya, aku masih punya banyak waktu untuk lebih mempersiapkan kedatanganku di Negeri Jiran nanti. Tentang siapa-siapa saja yang harus kukontak saat disana, juga tentang keinginan untuk semakin memperbanyak cuanku agar bisa membeli banyak ole-ole nantinya, bisa terealisasi pastinya, hehe. Tapi yang tidak bisa kutolerir adalah bagaimana orang-orang akan menatap padaku(?) karena keberangkatanku yang terus-terus mengalami penundaan. Astagfirullah. Kemanakah kamu duhai iman? aku semestinya tidak banyak ambil pikir atas tanggapan orang-orang :(.


Aku jadi ingat kemarin, saat salah satu kawanku beralasan menunda atas dasar ini... katanya "menghilangkan kemudharatan itu lebih diutamakan dibanding mendatangkan manfaat..", ah aku serasa tertampar, dan jadi ingat bahwa ini adalah salah satu kaidah ushul fiqh yang berulang kali diulang-ulang Kyaiku di pondok, dulu. Dengan banyaknya konsekuensi apabila berangkat maret,juga tentu tidak sedikit pula ke-was-was-an apabila kami tetap nekat untuk berangkat, maka sudah sangat tepat apabila penundaan ini harus diberlakukan. Sebab, virus tidak tanggung-tanggung dalam memilih tubuh yang ingin dihinggapinya. Dan apabila satu terpapar, akan ruwet masalah lain-lainnya. Kan?


Umm, aku juag jadi ingat kalau ditanya terkait keberangkatanku ke Malaysia kemarin-kemarin.. pasti setelah menyebut waktunya, aku akan mengucapkan "Mohon do'ata di', karna belum stabil ini kodong", dan aku jadi merasa bahwa firasat perempuan itu hebat sekali. Sebab melalui jawaban ini, perasaan bahwa kegiatan ini akan mengalami penundaan ternyata sudah bertengger di benakku, hehe. Jadi jangan pernah remehkan firasat perempuan, ya, gaiss :). Uhukuhuk.


Mmm, penundaan safar ini mungkin menjadi salah satu penundaan yang paling kusenangi, sebab mengunjungi tanah terjauh yang pernah kutapak adalah inginku sejak 2018 lalu, meski belum kesampaian. Dan berkat penundaan ini, aku jadi punya banyak waktu untuk mempersiapkan semuanya dengan sebaik-baiknya, termasuk pada beberapa list yang kubuat mengikut hehe, jadi doakan, yaa. Tapi juga, gegara penundaan ini.. aku takut sekali dapat komentar miring orang-orang terkait keberangkatanku, huhu. Astagfirullah al Azhiim. Padahal, kesal itu tidak boleh dibiarkan lama-lama mengendap.. jangan sampai meleber kemana-mana perkaranya, hehe. Diterima aja selapang-lapangnya, baik komentar miring maupun komentar 270 derajat sekalipun, hehe. Yukyuk, kan ada banyak sekali hikmah yang berselindung, pastinya. Dinikmatin aja segala bentuk caci maki netizen. Astagfirullah, malah sok ngartis, wkwk.


Menutup ini, dengan sekelebat rindu yang semakin menganga.., kukecup sehangat-hangat surat yang (semoga) disampaikan angin kepadamu, Negeri Trengganu. Koordinat terjauh, dimana pertama kalinya kakiku menapak Luar Negeri. Agustus nanti, aku akan menjejakmu lagi, InsyaAllah wa Biidznihu. Sampai Jumpa, :*.


Makassar, 15 Safar 1442 H.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.