(Masih) Bisakah Kita Tetap Melempar dan Berbagi Doa?

Maret 25, 2021

Bismillah...


Mengawali ini, aku ingin mengakui, bahwa aku merindukanmu teramat sangat, beberapa terakhir ini. Saking rinduku barangkali, aku memimpikanmu pulang ke Indonesia, lalu bertandang ke rumahku, yang sampai semua tetanggaku bersorak mengucap cie melihat pipi (tidak) merahku yang merona atas kedatanganmu. Adakah juga bunga-bunga tidurmu diselingi tentangku atas kesenangan lalu-lalu yang mampu mengukir sabit?


Tulisanku ini, sepenuhnya kukerahkan untukmu. Demi menuntas rinduku, lantaran mustahil mengharap jumpa. Jangankan jumpa, video-call pun kita tidak pernah. Hanya sebatas chattingan, yang kian masa semakin berkurang intensitasnya. Adakah tulisan-tulisanku sering, atau pernah kau baca demi menelusur karakterku? Atau jangan-jangan tulisanku ini yang justru meresahkanmu sehingga ada spasi yang meradang di antara kita?


Mmm... tulisankku tidak bermaksud demikian. Hanya sekadar amunisi menulisku atas yang lalu-lalu, sebab sebagaimana para pujangga.. kesedihan akan mengalirkan tulisan lebih dahsyat dibanding bahagia. Dan aku butuh itu sebagai bahan bakar. Kumisalkan bilasanya aku sedang melepas genggammu(?). Tapi ah, kita memang tidak pernah benar-benar saling menggenggam, berkomitmen atau semacamnya. Hanya saling melempar semangat, juga do'a, agar senantiasa memprioritaskan mimpi-mimpi, mengelilingi bumi Allah yang semakin luas.


Mmm. Aku sadar, bahwa aku masih labil sekali dalam asa, juga rasa. Meski seringkali merindukan sapamu, kiriman semangatmu, juga do'amu sebagai amunisi. Tapi tidak jarang, di antara beribu mil jarak yang memisahkan kita, tanpa komunikasi yang intens, aku justru tergelitik dengan siapa saja yang berada dalam jangkauanku, yang berusaha menghangatkan. Mmm, tapi tenang saja, kau masih yang paling kuladeni diantara semuanya. Sebab, aku tidak se-basa-basi dulu lagi dalam menanggapi chattingan. Pun denganmu. Hanya kau, yang paling kutanggapi dengan serius atas doa-doa serta kiriman semangat untuk keterbaikanmu.


Mmm... sebentar lagi Ramadan, juga april. Kesamaan Kita. Dan ada banyak hal yang mengingatkanku padamu secara beruntun akhir-akhir ini. Isi tiktokku yang sebagian besar adalah tentang Mesir, juga tadi, lantunan beberapa ayat surah Maryam yang mengantarku untuk menulis ini, sebab hanya padamu aku pernah bercerita bahwa Maryam adalah surah favoritku, surah ke-19, sebagaimana angka favoritku. Ah,... semuanya membuatku mengarah kepadamu akhir-akhir ini. Adakah Ramadan kali ini bisa semenyenangkan dahulu, saat kita berlomba dalam kebaikan meski di belahan benua berbeda? Sebab kita bahkan tak saling menyimpan kontak setelah ponselku rusak dan menghapus semua data-data di dalamnya, termasuk yang paling mengukir senyumku Ramadan tahun lalu. Saat susah-payah kau penuhi inginku untuk dihadiahi tulisan. Bagaimana bisa aku melepas semuanya semudah itu?


Mmm.. Aku yakin, dalam prosesmu bertumbuh dan berkembang disana, dalam masa-masa sulitmu tanpa dekapan siapapun, kau akan menemukan yang perempuan yang jauh lebih mengagumkan disana, lebih-lebih-lebih dalam segala hal. Bisa kau jangkau dalam hirungan jarak. Bahkan bisa menghangatkan dan menguatkanmu di tanah rantau. Aku bahkan tidak percaya diri untuk sekadar mencoba membandingkan "aku" dengannya. Sebab, aku sadar diri. Aku kalah dalam segala hal.


Credit : Galeri Pribadi ISLC V (2016)
Membentang semua yang lalu-lalu di antara kita, di belantara percakapan kita mulai dari pakai "ko", ngegas, penuh ejekan, sampai melebur penggunaan "ko", mulai gombal-menggombali, saling menyemangati atas mimpi-mimpi, bahkan (mungkin) dalam kondisi sekarang saling gengsi memulai sapa... bisakah kita tetap untuk saling melempar dan berbagi do'a atas masa depan?

Makassar, 13 Sya'ban 1442 H.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.