Dua Empat dan Sisa Semangat Menjalaninya~
Halooooooooooooo, Assalamu'alaikum!
Ini sudah mei, yaa.. dan diri baru benar sempat meramu kata, alhamdulillah tsumma alhamdulillah. Segalanya patut disyukuri, sedikit-banyaknya. Tapi aku mau kasih tau sedikit, jadi biar nanya dulu, yeaa, hehe.....
Kamu tahu tidak perbedaan alhamdulillahi 'alaa kulli haalin dan alhamdulillahi bini'matihi tatimmush shaalihaat?
Mm, kalau kata Papaku, bedanya terletak saat rasa syukur itu diihadirkan. Kalimat pertama untuk segala yang tidak sesuai ingin dan harapan, dan kalimat kedua atas segala yang sesuai.
Karena, segalanya tetap harus disyukuri baik-buruknya, kurang-lebihnya. Jadi dibanyakin aja alhamdulillahnya, meskipun astagfirullah juga tidak kalah banyaknya. Hehe.
Hehe, iyaa, aku merasa kok. Tulisanku sudah tidak setajam dan sedalam dulu. Malah semakin receh dan manja-manja gimanaaa gitu, ya? wkwkwk. Tapi entahlah, aku merasa bahwa lewatnya, aku jadi semakin legowo dan santuy menjalani hidup. Bahwa kesederhanaan bisajadi 'sederhana' juga dalam bertutur, alias melisankan tulisan, hehe. Ngerti gaa? Yaa begitulah.
Aku ingin cerita panjang malam ini. Panjaaaaangggg sekali, sampai bahkan kamu barangkali akan muak membaca tulisanku yang kian hari kian membosankan. Tiada lagi diksi indah barangkali, atau mungkin dengan alakadarnya kalimat, serta kata yang sering lebih dan kurang huruf biar semakin manja(h) wkwk, khaaan?. Lol. Entahlah, haha. Mungkin karena amunisi bacaanku juga menurun, jadi yaa, beginilah hidup perempuan yang sedang labil menunggu masa sold out berjuang menuju impian.
Ini jadi tulisan pertamaku di blog ini setelah berkepala-dua-berekor-empat. Rasanya? Uh tidak usah ditanya. Diadu pun jangan :( sebab, semuanya indah untuk diceritakan, hehe.
Tapi jika kau membaca sampai garis yang ini, maka aku akan mulai serius menceritakannya. Benar-benar kucoba menyusunnya sedemikian rapi agar sebagaimana tulisan-tulisanku dahulu yang syahdu dan bermakna, maka biar yang receh-receh kita cukupkan sampai di garis ini.
Dua-Empat, dan sisa semangat menjalaninya. Aku ingin memberi judul yang demikian. Sebab nampaknya, dua-empat benar-benar begitu memaksa untuk bersikap realistis, atas mimpi-mimpi. Atas kenyataan-kenyataan. Bahkan tidak jarang, mimpi-mimpi bisa dibunuh begitu saja dengan kejam oleh kenyataan.
Tapi, tapi salahkah aku bila masih bertahan dengan mimpi-mimpi itu?
| Ilustrasi 24 dari google, hehehe |
Ada banyak yang memelukku dalam dua-empat, namun palsu saja rasanya. Bisakah kutemukan ketulusan bersedekap dalam ruang-ruang tanpa kebutuhan terselip? Tanpa satu celah saja 'keinginan serupa' hingga masih bertahan dalam satu lingkaran?
Sebab, sebegitu melelahkannya berjalan dalam garis dua-empat. Jangan-jangan, ke depan pun akan menjadi gentayangan dengan 'harapan terkait hal-hal meromantisasi kehidupan rumah tangga, mengindahkan masa bergandeng-pasangan, atau bahkan hal menye-menye yang aku benci keberadaannya.' Aku hanya ingin menjalani dua-empatku dengan gemilang, dengan menyala.
Aku ingin punya banyak pengalaman menakjubkan, kehidupan karir yang cemerlang, dan bila bisa mendukung juga, aku mau punya dompet yang tebal juga, hehe.
Tapi, dua-empat bukan cuma milik pribadi. Ada ambisi, cita-cita, masa depan, dan juga orang tua yang membuat kamu berlari untuk mengejar. Meski melelahkan, senantiasa selipkan sisa-sisa semangat untuk menjalani dua-empat yang tidak mudah!
Demi cinta yang bertrilliun,
Demi tua yang anggun,
Dan untuk semua-mua yang terhimpun
Agar senang pada nanti yang bergelimun~
23 Syawwal 1444 H.
Alhamdulillah, alhamdulillah.

Tidak ada komentar: