Sudah Bulan Juli, apa Kabar Impianmu?

Juli 03, 2023

Alhamdulillahi 'alaa kulli haalin.
Alhamdulillahi bini'matihi tatimmush shaalihaat.


Sudah Bulan Juli, apa kabar Impianmu?

Kamu mungkin memulai Januari dengan optimisme luar biasa, berkhayal bahwa layaknya segala sedih, akan mudah lewat dengan satu tarikan napas. Atau bahkan, seolah ragu yang awalnya bertandang, maka akan mudah hilang dengan gampangnya sebagaimana biasanya adaptasi yang kamu lakukan. Menuliskan resolusi pun mengalir bukan kepalang, berlipat, berganda, sebagaimana kalimat 'bermimpilah selagi gratis'. Atau quote lain yang menyeolah-olahkan bahwa selama kamu punya mimpi segalanya bisa jadi.



Februari datang, semangat masih menggebu, mengepul di angkasa bersama hangatnya kopi pagi yang kamu hirup setiap harinya. Satu bulan berlalu bukanlah apa-apa, rasanya. Meski tidak ada yang istimewa mengikuti. Belum nampak juga manifestasi luar biasa atas hal-hal kecil yang kamu lakukan. Terpenting adalah bahwa semangat masih kamu gelorakan.


Maret menyapa, dan ah.. alarm 3 bulan pertama mulai menghantui. Sudah seberapa lama diri beranjak? Sudah sejauh apa hari berlalu? Atau bahkan, sudah seberapa jarak yang terlewat?. Sebagian diri berteriak belum ada progress, ketika yang lain menenangkan sabar, kesimpulan belum bisa dibuat di caturwulan pertama ini.


April, bulan favoritmu. Ketika angka belakang usiamu bertambah. Adakah yang bisa dibanggakan? Kamu mulai merancang langkah yang kamu kira akan mulus. Kamu bahkan sudah membuat rencana untuk bersembunyi dibalik 'impian' yang ingin kamu kejar. Padahal, kamu hanya hendak meninggalkan. Berlari sejauh-jauhnya meninggalkan penyesalan yang hadir kini sebagai yang kamu sebut di belakang.


Hingga mei datang dan berteriak dengan lantang. Apa yang kamu perbuat sejauh ini? Cahaya Impian semakin benderang sehingga dengan keras kamu membenarkan bahwa inilah tahunmu. Namun, kamu telanjur percaya dan telanjur mengakui bahwa kamu tidak pernah menjadi lemah. Bahkan kamu menggeneralisir bahwa kamu sudah akrab dengan kegagalan, hingga yakin bahwa inilah yang kamu nantikan.


Hingga juni melangkah maju, dan yang kamu imajinasikan hanyalah bualan semata. Detak jantung yang memburu, yang kamu kira adalah kemenangan. Tapi kamu salah sayang, kemenangan masih jauh dalam genggamanmu. Kamu terlalu menerangkan diri sendiri. Apa kabar hal-hal yang kamu sebut kebermanfaatan? Sudahkah perangai-perangai yang buruk kamu hilangkan? menjawab itu, kamu terdiam. Menangis. Bahkan memvalidasi bahwa kamu erat dengan segala kegagalan dalam hidup.


Hei, ini sudah juli. Apa kabar impianmu?


Kamu terseok, patah. Terluka. Kamu mencari, di mana semangat yang dulu ada di sorot mata itu? Di mana keberanian yang telah kamu kumpulkan? Atau sekedar kemudahan menulis impian dalam buku-buku jurnal favoritmu, di mana itu semua?


Ayo, kita susun lagi rencana yang sudah hancur berantakan itu. Kita bangun lagi impian kita pelan-pelan. Tapi sebelum itu, sudahkah beribu izin kita haturkan ke Maha yang Mengabulkan Impian? Sebab, jangan-jangan, segala bentuk kekalahanmu adalah berkat kesombongan dan kekamuanmu yang merasa hebat dan jagoan?

Sebab, kerja keras tanpa pintamu Kepada_Nya -walau akhirnya berhasil- hanyalah kesia-siaan tanpa nilai apapun, tidak berkah dan tidak berharga sepeserpun.


Alhamdulillah 'ala kulli haalin. Alhamdulillah. Jadi hei, ini sudah juli? Sudah kamu susun, impian-impian barumu dengan melibatkan-Nya sebagai yang Maha Segala?



Foto hanya pemanis, betapa gadis kecil ini dulu penuh semangan dan impian.


17 Dzulhijjah 1444 H.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.