Berkenalan dengan Mimpi (Mimpiku)
Sedari kecil, aku bercita-cita bahwa (naik) pesawat pertamaku adalah harus prestasi. Bapak berkali-kali mengajak jalan-jalan ke Bandung (karena dia di Bandung), pernah memanggil untuk sekolah agama ke-Padang (pesantren) -saat dia tugas di Sumatera, tapi aku tidak pernah mau. Aku maunya di Makassar, sama Ibuk. Hal yang sangat ingin kutukar dengan posisi sekarang, ingin kuliah di luar Sulawesi, di tanah Jawa huhu.
Aku tergolong pintar di Sekolah Dasar, meski tidak pernah benar-benar masuk 3 besar. Sampai suatu hari aku bercita-cita masuk 3 besar, dan ehh semester depannya aku benar-benar masuk di jajaran 3 besar di kelas wkwk. Dari situ, aku mulai percaya keajaiban kemauan (belum mengenal dan memaknai the power of dream).
Hal tersebutlah yang membuatku mulai bercita-cita. Semisal aku mau naik pesawat, tapi tidak mau yang karena jalan-jalan (bocah belum paham kalimat 'naik pesawat karena prestasi' waktu itu), aku maunya karena ada agenda lain yang lebih luar biasa. Waktu itu aku mau kayak anak-anak OSN (dari berita yang kulihat dan cerita yang kudengar), naik pesawatnya ketemu teman-teman baru. Tapi apalah dayaku yang tahap se-gugus pun aku ndak lolos wkwk. Atau mimpi lucuku yang lain, sesimpel aku ingin disukai oleh teman kelasku dengan nama dirahasiakan. Dan, ajaibnya, itu terjadi. Dasar bocah wkwk.
Selepas SD, Bapak mau angkut aku ke Padang. Yah aku ndak mau lah, Padang baru-baru sudah gempa waktu itu. Dan aku merasa bahwa dalam dekapan Ibuk selalu menjadi yang terbaik, paling hangat. Akhirnya, karena kokoh mau di Makassar, aku dipaksa masuk pesantren dong. Jadilah di Ummul Mukminin tercintah. Di Ummul Mukminin, mataku terbuka lebar sekali. Dunia tidak sesempit Makassar dan pelukan Ibu. Nyesal aku menolak mentah-mentah ajakan Bapak wkwk.
Akhirnya aku merevisi kembali cita-citaku. Aku ingin menginjakkan kaki di bumi Allah yang lain, dengan prestasi. Kulekatkan itu selalu agar kebermanfaatan mengikut dengan langkah yang kujejakkan. Alhamdulillah 'ala kulli haalin. Allah catatkan langsung barangkali sebagai doa, aku benar-benar naik pesawat karena prestasi untuk pertama kalinya. Ditengah kegagalanku tidak lulus seleksi pertukaran pelajar ke negeri Paman Sam, pengumuman yang lain hadir sebagai pelipur. Aku akan ke JAKARTA. Kota pertamaku, dalam rangka Forum Pelajar Indonesia ke-7, tahun 2015. Bapakku girang bukan main. Bahkan diceritakannya sampai sanak-saudara wkwk. Semuanya, kecuali tetangga sekitar rumah barangkali (Lah, untuk apa juga mereka tahu? wkwk). Sekedar informasi, di kompleksku mau berita baik atau apapun, cepat sekali tersebar lewat hembusan angin kabarnya. Lah, masa berita kepergianku tidak disebar-sebar? wkwk. Tapi Ibuk bukan tipikal yang suka menggembor-gemborkan prestasi atau apapun itu, sehingga baginya hal ini bukan sesuatu yang harus disebar-sebar menurutnya. Dan dari sini, aku sadar perihal berbangga diri adalah warisan Bapakku.
![]() |
| Here we Go! My (very) First Time on the Airplane. |
Selesai kegiatanku di Jakarta, aku akhirnya benar-benar jalan-jalan di Bandung. Dibawa keliling Bandung, ditawari kesana-kemari. Tapi diantara semua tawaran bapakku, yang kumaui hanya satu; pergi ke kebun teh di film-film FTV, Bogor wkwk. Dan aku benar-benar pergiiii meski diomeli karna kerjaku hanya tidur di mobil, Bapakku maunya aku bercerita, atau paling tidak memerhatikan Bandung dengan jelas, tapi apadaya aku ngantuk berat karena disuruh bangun subuh-subuh untuk menuju Bogor. Dan tada!!! ini fotoku. Maafkan ketidak-nyambungan bajunya. Aku sudah ditegur habis-habisan sama Bapak, tapi aku merasa keren dengan style ku waktu itu barangkali, ya? HAHA.
![]() |
| Kebun Teh sesuai mauku wkwk, meski tidak sesuai ekspektasiku HAHA |
Saat kembali ke Makassar, mataku terbuka lebar akan dunia. Akan mimpi-mimpi. Di wishlistku selanjutnya, aku memantapkan untuk keluar Negeri tahun depannya. Lagi dan lagi, Allah catatkan itu, dan Ia mudahkan. Aku akan ke Malaysia, sebagai delegasi Ketua OSIS terbaik, kamu bisa baca disini ceritaku Mengudara di Ruang Kenangan. Tapi sebelum genap aku keluar Negri, Allah hadiahkan Jogja untukku. Sebagai apresiasi atas pengabdian Ketua OSIS di Sekolahku, awal periode yang manis.
| Siapapun tahu aku berfoto dimana wkwk |
![]() |
| My Fav ones, kelompok V |
Ah, selepas pulang dari Negeri Jiran itu.. aku benar-benar berpuas diri. Aku menargetkan kuliah ke Turki atau ke Brunei atau ke mana saja asal luar Negri tahun depannya, tapi tekadku tidak semantap sebelumnya. Setengah-setengah. Barangkali dalam tekad yang setengah-setengah itu, Allah tidak catatkan jalan itu untukku, sebab terselip rasa puas diri di hatiku, tidak sungguh-sungguh.
Jadi, bagaimana bisa dikabulkan kalau esensi dari berjuang tidak mau kuupayakan?
Jadi, bagaimana bisa dikabulkan kalau esensi dari berjuang tidak mau kuupayakan?
Setelah itu, aku benar-benar tidak pernah sungguh-sungguh lagi dalam mengoptimalkan mimpi-mimpiku. Aku ingin menjelajah bumi Allah yang lain, tapi selain sadar minim modal, aku juga kecil usaha. Membuatku benar-benar tenggelam dalam ketertinggalan. Tahun berikutnya, aku mencoba peruntunganku ke Negeri Jiran lagi, gagal. Mencoba ke Thailand, juga gagal. Tidak pernah kudapati semangatku yang dulu-dulu lagi. 2017-2018-2019 benar-benar kulalui tanpa pesawat-pesawat. Bahkan tidak keluar-keluar dari Tanah Celebes. Sungguh aku merindukan menggenggam Tanah Jawa, berada di atas pesawat. Pun Keluar Negri.
Terakhir, Februari 2020. Aku ingin ke Istanbul.. ada jalan. Saat sudah sampai di seleksi tahap 2, aku tidak maksimal menyetor berkas ke-volunteer-an, tidak sungguh-sungguh barangkali. Lagi, Allah belum catatkan untukku. Maret 2020 kemarin, Paman Sam kembali mengiming-imingiku janji. Tapi, Allah belum catatkan. Setelah proses panjang seleksi-seleksi yang kulalui, speakingku belum baik untuk standar kualifikasi mereka barangkali (dalam asumsiku) karena saat menyetor video, banyak sekali E...E...E.. E.. yang berseliwaran dalam kalimatku, terbata-bata.
Terakhir saat Kanada ingin kugenggam, Corona menyerbu tanpa pandang bulu. Barangkali program Exchange ini akan dihapus kampusku, tanpa pernah mengirim satu pun mahasiswanya. Maklum, tahun ini adalah tahun pertama, percobaan. Dan bisajadi batal.
Daya tarik negeri Paman Sam, selalu menjadi barat yang ingin kutuju. Entah kenapa, magnetnya mengalahkan Ka'bah, mengalahkan peradaban di Timur yang harusnya kuurut di posisi paling atas. Sesuatu yang patut kurombak dalam benak sebenarnya, tapi tidak bisa. Sejak Aliyah, sejak mengikuti pertukaran pelajar, USA adalah tujuanku. Aku ingin kesana, belajar, berguru, dan mengekspansi referensi untuk menyelam sebanyak-banyaknya kemajuan. Setelah USA, baru kuletakkan Negeri 2 Benua. Seperti inginku kuliah disitu selepas SMA, tapi gagal karena malas mengisi berkas. Yang jelas pada suatu hari nanti aku ingin bertemu seseorang yang kudamba di Negeri Konstantinopel itu. Menyelami Kisah al- Fatih bersamanya. Semoga saja ya, Kasih?
Ahh, dinamika mimpi memang perihal jatuh bangun dan kesungguhan tekad. Dalam banyak kasus, aku gagal memperjuangkan mimpi-mimpiku, setengah-setengah. Tapi menjadi awal semangat baru, bahwa untuk memperjuangkan mimpi dan menceklisnya dalam list, tidak boleh setengah-setengah dalam berjuang. Harus matang benar, bahkan barangkali itulah esensi berjuang yang harus dilewati untuk mencapainya, agar ia sampai. Agar terasa perjuangannya saat tercapai. Ibarat bersulit-sulit dahulu bersenang-senang kemudian.
Untuk itu Allah, kemanapun kau izinkan kaki ini melangkah.. jadikan ia sebagai sesuatu yang kau restui jejaknya. Untuk senantiasa menebar kebermanfaatan, berprestasi, dan menjadi sesuatu yang Kau berkahi.
Untuk itu Allah, kemanapun kau izinkan kaki ini melangkah.. jadikan ia sebagai sesuatu yang kau restui jejaknya. Untuk senantiasa menebar kebermanfaatan, berprestasi, dan menjadi sesuatu yang Kau berkahi.
Sebagai penutup, aku tidak tahu kakiku akan kemana selanjutnya bila diizinkan Allah. Aku hanya ingin... naik pesawat lagi, karena prestasi. Aku ingin, menjejakkan kakiku di Bumi Allah yang lain lagi, yang bila boleh kumeminta itu adalah koordinat yang sebelumnya belum pernah kujejakkan kakiku. Duhai diri, dekap kesungguhan-kesungguhan itu dalam berjuang, genggam ia sekuat-kuat yang kau bisai, mari mengulang kejayaan 2016, mari mengulang masa-masa emas itu atau bahkan melampauinya! Biidznillah.




Membaca kisahmu membuatku kembali terbakar api semangat, semangat untuk meraih impian. Mmang btul jika minim usaha itu hanya akan jadi sebuah mimpi namun sebaliknya jka dimaksinalkan akan terwujud jdi sebuah impian. Intinya kern, smoga kisah kisahmu ini bisa menjadi secerca cahaya setiap pembacanya.
BalasHapusHalo! Siapapun kamu, terima kasih sudah meninggalkan penanda. Aku (amat sangat) terharu bahwa kamu kembali diamunisi semangt membaca ceritaku. Semangat, ya? Pokoknya jangan setengah-setengah dalam bermimpi. :)
HapusKagum dengan kisah-kisahmu me' semoga setelah pandemi usai bisa ngumpul sama kawan-kawan sembari dengar ceritamu.
BalasHapusWkwk siapapun kamu, semoga pandemi bisa segera usai yaa.. biar kita bertatap muka dan aku bisa tahu siapa dirimu hohoo
Hapus